Keren, Tim PKM UPGRIS Ciptakan Brankas Ketuk, Lebih Aman dan Praktis

Arsha Raulnadi Trikusuma, sapa satu Tim PKM UPGRIS sedang menyusun rangkaian elektronik di brankas ketuk buatannya. (Dok.)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Brankas menjadi salah satu tempat penyimpanan barang-barang atau dokumen berharga yang aman. Hal tersebut dikarenakan, brankas terbuat dari bahan yang kuat dan keras, bahkan seandainya terjadi bencana alam atau kebakaran, barang-barang berharga serta dokumen-dokumen penting yang ada didalamnya relatif aman.

Selain itu, brankas juga dilengkapi dengan suatu sistem penguncian sehingga relatif aman dari tindak pencurian. Biasanya brankas digunakan oleh instansi atau perusahaan maupun masyarakat umum yang memiliki barang atau dokumen berharga.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Ditjen Belmawa Kemdikbud, tim mahasiswa PKM Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), yang terdiri dari Arsha Raulnadi Trikusuma, Mona Rizqa dan Dhimas Aria Wardhana, serta dosen pendamping Noora Qotrun Nada, S.T., M.Eng. berinovasi untuk merancang sebuah sistem penguncian brankas yang unik, dan belum pernah ada sebelumnya.

“Kami mencoba membuat brankas dengan sistem penguncian berbasis pola ketukan. Lebih mudahnya disebut Branket atau brankas ketuk. Ide ini muncul setelah melihat proyek-proyek mikrokontroler Arduino yang ada di internet. Ada suatu proyek yang unik, yaitu penguncian pintu pintar berbasis teknologi atau yang disebut dengan smart door lock system, dengan menggunakan pola atau irama ketukan,” papar Arsha Raulnadi Trikusuma, Senin (3/4/2021).

Namun sejauh ini, lanjut Arsha, proyek tersebut belum dimanfaatkan pada sebuah benda yang memerlukan suatu sistem penguncian yang unik.

“Akhirnya ide ini, kami diajukan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta yang diselenggarakan oleh Ditjen Belmawa Kemdikbud pada tahun 2019,” paparnya.

Kemudian pada tahun 2020, proposal tersebut disetujui dan berhak menerima pendanaan. Namun karena situasi dan kondisi pandemi COVID-19, pembuatan produk secara fisik tidak diperbolehkan, dengan alasan untuk mengurangi kontak fisik ketika itu.

“Sebagai gantinya, dibuatlah suatu produk virtual beserta penjelasannya dalam bentuk video animasi untuk pelaporan dan penilaian. Namun saat ini prototipe fisik dari produk Branket telah berhasil dibuat dan berhasil dilakukan pengujian,” terangnya.

Pengujian yang dilakukan dengan merangkai prototipe Branket diatas breadboard atau papan rangkaian elektronika, kemudian memasukkan program yang telah dirancang ke dalam komponen, serta menguji sensor ketukan untuk membaca pola ketukan dan membuka kunci solenoid.

“Sistem penguncian pada Branket tersusun atas beberapa komponen seperti mikrokontroler Arduino, sensor ketukan piezoelektrik, kunci solenoid atau kunci elektronik, serta komponen elektronika lain seperti kabel, lampu, dan resistor. Desain dari produk Branket berbentuk sama dengan brankas pada umumnya, namun terdapat ruangan kecil untuk memasukkan tangan ketika mengetuk sensor ketukan dengan pola ketukan sebagai password-nya,” tandas Arsha.

Dijelaskan, dengan cara tersebut, orang lain yang berada di dekat brankas tidak mengetahui pola ketukan dari pemilik brankas, saat membuka brankas.

“Penggunaan pola ketukan memungkinkan pengguna, untuk dapat membuka brankas hanya dengan mengetuk sensor, sesuai pola atau irama yang mudah diingat, seperti nada pada lagu atau nada dering. Sensor ketukan tersebut dapat membaca ketukan dengan interval kurang dari satu detik,” urainya lebih lanjut.

Pihaknya pun berharap, rancangan produk Branket ini dapat menjadi suatu inovasi yang unik, dalam penguncian brankas, yang tentunya memerlukan suatu sistem penguncian yang aman.

“Apalagi dengan sistem penguncian berbasis ketukan yang unik ini, juga lebih cepat pembukaannya dibandingkan dengan kunci putar atau digital. Selain itu proses membuka brankas juga lebih rahasia dan sulit diketahui orang lain,” pungkas Arsha. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here