Jawa Tengah Darurat Perceraian, Begini Kata Quatly Wakil Ketua DPRD Jateng

SEMARANG (Sigi Jateng) – Jawa Tengah tercatat sebagai Provinsi dengan jumlah perceraian tertinggi pada tahun 2020. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 65.755 perceraian yang terjadi di jawa Tengah pada tahun 2020. Posisi kedua dan ketiga ditempati Jawa Barat dan Jawa Timur dengan masing-masing perceraian sebanyak 61.380 dan 37.503.

Namun demikian, perceraian yang dipicu oleh masalah pandemi covid-19 hanya sekitar 2 persen dari total perkara di pengadilan. Perceraian mayoritas (98 persen) disebabkan karena perselisihan suami istri, factor ekonomi, dan salah satu pihak meninggalkan pighak lain.

Tapi yang menjadi pertanyaan, sebenarnya mengapa maasalah tersebut bisa terjadi?

H. Quatly H. Al-Katiri, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, mengatakan berdasarkan beberapa data yang di abaca faktor penyebabnya sangat rumit.

“Kita tidak bisa menyalahkan salah satu pihak dalam perceraian. Karena kedua belah pihak sudah berkomitmen untuk membangun bahtera rumah tangga, maka keduanyalah yang bertanggungjawab,” ujarnya dalam Ngobrol bareng dengan DPRD Jawa Tengah di 147 Meta FM di Adiwangsa Hotel Solo beberapa waktu lalu.

“Hari ini mungkin berbeda dengan zaman dahulu yang menikah biasanya karena dijodohkan. Saya jujur tidak menganjurkan itu karena seharusnya pernikahan itu dilalui karena ada perkenalan satu sama lain, dialog, dan tukar menukar pikiran sebelumnya sehingga saat menikah sudah ada saling merasa. Nah setelah menikah, maka dituntut kesepahaman di antara dua pihak,” imbuh politisi PKS ini.

Quatly mengatakan perlu sosialisasi lebih massif agar tidak terjadi pernikahan dini, terutama akibat perjodohan yang akan merugikan tumbuh kembang anak. Karena perceraian yang terjadi mayoritas karena pernikahan usia dini.

“Intinya kita perlu memberikan edukasi kepada anak-anak di bawah usia pernikahan agar pemahaman mereka itu tumbuh, agar kampanye-kampanye menyesatkan soal perkawinan bisa ditepis. Tinggal sekarang kita menggandeng semua pihak agar sosialisasi dan edukasi ini tersampaikan dengan baik,” ujarnya.

Selain itu, Quatly menegaskan, peran orang tua dalam mendidik anaknya cukup signifikan dalam menghentikan laju pernikahan anak.

“Mereka (orang tua) yang sehari-hari hidup dengan anaknya. Sekarang banyak sekali orang tua yang menikahkan anak perempuannya di usia sangat dini untuk melepaskan diri dari beban ekonomi,” ungkapnya.

“Inikan ada pemahaman yang salah dari orang tua itu sendiri,” tandasnya.

Berbeda dengan Undang-undang perkawinan yang membatasi usia pernikahan minimal usia 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan, Quatly mengatakan sebenarnya usia ideal untuk menikah itu 21 tahun untuk Wanita dan 25 tahun untuk laki-laki.

“Kalau saya lihat di teori perkawinan, yang ideal itukan wanita minimal usia 21 tahun dan laki-laki 25 tahun karena usianya matang. Di bawah usia itu ya masih dianggap di bawah umur,” tutupnya.

Sementara, Kepala DP3AKB, Dra. Retno Sudewi mengatakan memang situasi pandemi punya dampak terhadap perceraian, karena awalnya dari masalah ekonomi, Pendidikan anak yang melalui virtual yang menyebabkan para orang tua mengalami stress. Namun seharusnya hal-hal tersebut bisa diatasi dengan komunikasi yang baik.

“Memang situasi pandemi ini berdampak di semua hal termasuk dalam keluarga, dalam situasi ini banyak orang yang stress, baik dalam mendidik anak, dalam komunikasi, dan tentu ekonomi. Karena timbul seperti itu, seharusnya diatasi dengan komunikasi yang baik, bukan saling menyalahkan. Nah hal seperti itu bisa terjadi pada pasangan suami istri, biasanya mayoritas korban adalah istri atau Ibu dan anak,” jelasnya.

Biasanya sepasang laki-laki dan perempuan sebelum menikah itu akan berpacaran terlebih dahulu, Retno mengatakan, saat pacaran kedua pasangan tidak bertemu secara terus menerus dalam 24 jam, bahkan bisa jadi sangat jarang bertemu.

“Tapi setelah menikah, mereka akan terus Bersama selama 24 jam dan pasti jelek-jeleknya akan kelihatan. Sehingga memang perlu ada kursus-kursus pra nikah untuk tahu bagaimana menjadi suami dan istri yang baik yang dipandu oleh psikolog. Di dinas kami itu sudah ada,” tuturnya.

“Kamipun juga sering mengadakan webinar dan seminar tentang perkawinan, apalagi sekarang ini banyak sekali perkawinan anak di bawah usia 19 tahun. Padahal undang-undang terbaru batas usia nikah itu minimal 19 tahun,” jelasnya.

Padahal, Retno menegaskan, perkawinan anak itu seringkali menimbulkan perceraian, karena usia yang belum matang.

“Makanya di dinas kami itu ada program “Ojo Kawin Bocah” yang menggandeng forum anak di mana mereka bisa menjadi fasilitator sebaya agar sosialisasi kami mengena kepada anak-anak dan remaja,” ungkapnya.

“Jadi terkait sosialisasi aturan perkawinan kami menggandeng banyak pihak mulai perankat desa, komunitas-komunitas, dunia usaha, bahakn orang tua-orang tua yang memiliki anak remaja. Mereka harus tahu Kesehatan reproduksi, karena kalau anak menikah di bawah usia kan alat reproduksinya belum matang. Kami juga dekat dengan tokoh-tokoh agama agar misi kami berhasil. Termasuk dalam gelar ekspo “Ojo Kawin Bocah” kemaren itu, semua pihak kami datangkan,” tuturnya.

Di akhir, Mariyana Limiyati yang seorang psikolog klinis menjelaskan ketika ada dua orang memutuskan berkeluarga, dua orang itu harus memiliki komitmen yang kuat. Tapi ada banyak faktor yang bisa menguatkan komitmen dan saekaligus melemahkannya, salah satu yang paling penting adalah komunikasi. Sehingga jika komunikasi terjalin dengan baik maka tidak akan ada keputusan yang terburu-buru jika terjadi permasalahan.

“Biasanya perceraian itu mayoritas disebabkan karena ada stress yang tidak tersalurkan kemudian komunikasi juga gagal lalu muncullah perilaku primitif yang menimbulkan KDRT seperti membully pasangannya bahkan perbuatan menyakiti secara fisik,” ujarnya.

Bahkan banyak sekali perbuatan KDRT yang sampai pada ranah hukum, suami atau sitri melaporkan pada polisi. Ini menandakan bahwa permasalahan yang terjadi sudah benar-benar di luar kendali suami istri tersebut.

“Seharusnya, jika pernikahan pada awalnya dilandasi karena cinta, saat itu juga pasangan suami istri harus berkomitmen menerima konidisi tidak terduga di masa depan. Karena dengan begitu maka akan terbangun komunikasi positif jika ada ketidakcocokan,” pungkas Mariyana. (adv)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here