Ganjar Angkat Bicara Soal ‘Konfliknya’ dengan Puan Maharani

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberikan keterangan kepada wartawan.

SEMARANG ( Sigijateng.id ) – Hubungan Ketua DPR Puan Maharani dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjadi sorotan publik belakangan ini.
Yaitu setelah kedatangan Puan Maharani ke kantor DPD PDIP Jateng di Semarang, Sabtu pekan lalu. Pasalnya, Puan sempat menyindir Ganjar, dengan pernyataan pemimpin itu yang hadir langsung di lapangan, tidak di medsos.
Bagaimana tangapan Ganjar? Apakah memang berkonflik?

Kepada wartawan Ganjar yang juga politikus PDI Perjuangan ini menyatakan tidak ada persoalan apa apa. Tidak ada konflik antar dirinya dan Puan Maharani, namun dia merasa tidak enak kepadanya.

Ganjar Pranowo, menyatakan dirinya selalu hormat ke Ketua DPP PDIP Puan Maharani, yang juga putri dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri itu.

“Saya mengikuti di medsos, sungguh-sungguh saya tidak enak, saya sangat hormat dengan mbak Puan, sangat-sangat hormat,” kata Ganjar kepada wartawan usai mengikuti rapat paripurna di Gedung DPRD Provinsi Jawa Tengah, di Semarang, Jumat (28/5/2021).

Ganjar mengakui bahwa Puan Maharani merupakan sosok yang sangat berjasa bagi dirinya.

Ia kemudian mengingat ketika maju sebagai calon Gubernur Jateng pada 2013. Saat itu elektabilitasnya sangat rendah, namun akhirnya bisa menang. Saat itu Puan Maharani terjun sendiri sebagai komandan tempur.

“Mbak Puanlah sebenarnya komandan tempur, saya juga tidak punya modal saat itu, maka partai (PDI Perjuangan, red) yang bergerak sehingga saya menang. Saya tidak pernah lupa itu,” terangnya.

Ganjar menyatakan apa yang saat ini ramai di media sosial terkait dengan isu perseteruannya dengan Puan Maharani itu tidak seperti yang sebenarnya terjadi.

Hingga saat ini, Ganjar mengaku tidak pernah berkonflik dengan Puan Maharani.

“Sampai hari ini saya tidak pernah berkonflik dengan beliau, bahkan saat saya ‘sowan’ ibu (Megawati Soekarnoputri, red) untuk halalbihalal, Mbak Puan juga ada di sana dan kami sempat bercanda. Saya ini orang Jawa dan kader yang selalu diajari ‘mendhem jero, mikul duwur’, itu saja,” pungkasnya. (ant/zuhri)

Berita Tetbaru:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here