DP3A Kota Semarang Libatkan Laki-laki dalam Perlindungan Perempuan dan Anak

Krisseptiana Hendrar Prihadi saat menyampaikan materi dalam sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak untuk LPMK dan Ketua RW laki-laki se Kota Semarang. (Foto: Mushonifin/Sigijateng)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan yang serius yang harus kita perhatikan. Baik kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran. Kekerasan itu terjadi mulai dari lingkungan keluarga, sekolah atau di tempat umum. Berbagai upaya pencegahan sudah dilakukan tetapi kasus kekerasan ini masih tergolong cukup tinggi.

Tahun 2020 data yang di release Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang mencatat ada sebanyak 145 kasus kekerasan terhadap perempuan dari total 164 kasus yang tercatat, dan 107 kasus diantaranya adalah Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jumlah ini relatif tinggi dan sangat jauh dibandingkan dengan korban laki-laki, artinya perempuan memiliki kerentanan lebih untuk menjadi korban.

Kepala DP3A Kota Semarang Drs. Mukhamad Khadhik, Msi menyampaikan bahwa DP3A Kota Semarang akan terus menggandeng para laki-laki untuk terlibat dan berperan di dalam keluarga dan menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Pandemi Covid 19 menjadikan kita dipaksa untuk beraktivitas dari rumah, anak-anak belajar di rumah begitu juga orang tua bekerja dari rumah, hal ini menjadikan intensitas bertemu yang cukup tinggi. Sayangnya intensitas pertemuan ini juga dibebani oleh beban baru yaitu mendampingi anak belajar, mengatasi kebosanan anak-anak, menjaga imunitas anak untuk pencegahan Covid 19 dan tidak jarang merespon anak-anak ketika berperilaku negatif. Hal ini berakibat anak-anak dalam kondisi rentan mendapatkan kekerasan,” ujar Khadzik, Kamis (25/11/2021).

“Kasus KDRT ini seperti fenomena gunung Es yang mungkin masih banyak kasus-kasus lain yang belum terlaporkan. KDRT adalah wilayah domestik sehingga masih banyak korban yang enggan melapor karena beberapa hal mulai dari takut karena ancaman, takut kehilangan nafkah, dianggap sebagai AIB Keluarga dan hal lain adalah karena korban tidak berdaya,” imbuhnya.

Sudah banyak program pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diluncurkan, mulai dari sosialisasi sampai pada kampanye publik yang diperingati setiap tahun yaitu 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

“Sayangnya selama ini program ini lebih banyak ditujukan untuk perempuan. Edukasi terhadap laki-laki masih sangat minim, padahal ketika kita berbicara kebanyakan korban adalah perempuan maka pelaku nya adalah laki-laki,” jelasnya

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang merespon hal tersebut dengan membuat sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak untuk LPMK dan Ketua RW laki-laki se Kota Semarang. Sosialisasi ini diharapkan bisa memberikan ruang kepada laki-laki untuk mendapatkan edukasi tentang perlindungan perempuan dan anak sehingga mereka diharapkan bisa berpartisipasi maksimal.

Acara yang diselenggarakan di Hotel Whizt melibatkan sebanyak 50 LPMK laki-laki dan 50 Ketua RW Laki-laki hadir dalam sosialisasi ini. Mereka adalah perwakilan dari 16 Kecamatan. Mendatangkan narasumber dari Aliansi laki-laki Baru yaitu Nur Hasyim yang memberikan materi tentang partisipasi laki-laki dalam perlindungan perempuan dan anak dilengkapi materi dari Narasumber dari Yayasan Anantaka yaitu Tsaniatus Sholihah,SE yang mengenalkan tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan keluarga.

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua TP PKK Kota Semarang Krisseptiana Hendrar Prihadi yang memberikan apresiasi atas penyelenggaraan acara ini, Saya berharap ini akan menjadi gerakan yang masif untuk melibatkan laki-laki dalam perlindungan perempuan dan anak di Kota Semarang, sebenarnya cukup simple yang bisa kita lakukan yaitu dengan cara tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan baik sesama laki-laki atau ke perempuan dan anak sehingga kasus kekerasan akan dapat terminimalisir. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here