Dari Sawah ke Sawah, Penjual Kopi Keliling Ini Tak Mau Dibayar Dengan Uang Tapi Dengan Gabah

    Pedagang kopi di Ponorogo dibayar pakai gabah/Foto: detikcom

    Ponorogo (Sigi Jateng) – Berjualan kopi siap minum, umumnya pembeli membayar dengan uang. Namun, di daerah ini ada pedagang kopi yag tidak mau dibayar dengan uang. Justru lebih suka dibayar dengan gabah. Bahkan, hal itu ternyata sudah turun-temurun bagi pedagang kopi.

    Salah satunya di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Ponorogo ini. Begitu panen raya padi tiba, setidaknya lima pedagang kopi berkeliling menjajakan dagangannya dengan cara dipikul. Mereka mencari sawah yang sedang dipanen dan menjajakan dagangan kopinya ke para petani.

    Di saat pembayarannya pun, si penjual kopi tetap tidak mau menerima uang. Namun, penjual kopi lebih suka pembayaran dilakukan dengan gabah atau padi hasil panen.

    Salah satunya adalah Suraji (58) pedagang kopi keliling ini. Suraji menjelaskan, sejak 10 tahun terakhir dia menggeluti usaha ini. “Ini awalnya usaha orang tua, terus saya generasi berikutnya,” tutur Suraji kepada wartawan, seperti dikutip detikcom, Minggu (14/3/2021).

    Ia mengaku, melakukan pekerjaan ini setahun sekali selama satu bulan yakni di saat panen raya padi. “Kalau panen gini biasanya full satu bulan saya dagang, tapi hanya satu tahun sekali yakni pada saat panen raya padi saja,” ujarnya.

    Bagi Suraji, berdagang menjual kopi dengan cara dipikul bukanlan pekerjaan tetap. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dia justru mengaku bekerja sebagai buruh tani. “Kalau nggak dagang ya buruh tani,” ungkap Suraji.

    Untuk melengkapi dagangannya, tak sekedar kopi. Suraji juga menjajakan teh, susu hingga jajanan tradisional seperti gandos, peyek, tahu, pisang. “Saya keliling mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB. Biar lengkap, selain kopi ada teh, susu dan jajanan tradisional lainnya,” bebernya.

    Suraji mengaku dalam sehari, rata-rata ada 50 gelas habis terjual. Penghasilannya ditentukan dari kebaikan hati si pemilik sawah. “Kalau yang dermawan biasanya kasih banyak, kalau yang pelit ya ngasih gabah sedikit,” imbuh Suraji.

    Begitu disinggung kenapa tidak menerima uang sebagai alat pembayaran, menurut Suraji, dirinya hanya meneruskan tradisi. “Sehari kadang dapat 50 kilogram gabah,” kata Suraji.

    Sementara itu, salah seorang pemilik lahan mengaku senang dengan tradisi seperti ini. Sebab, saat repot mengurusi hasil panen, dia pun tidak disibukkan dengan mencarikan jajanan bagi para buruh. “Iya merasa terbantu, ini kan tradisi. Upahnya ditukar sama padi,” tandas Kateno. (dtc/dye)

    Baca Berita Lainnya

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here