Bhakti Pada Masyarakat, Semarang Zoo dan Bhakti Foundation Gelar Khitan Massal

Direktur Semarang Zoo, Choirul Awaludin (mengenakan baju batik warna coklat dengan masker warna putih) saat mendampingi keluarga peserta sunat massal di ruang khitan. (Foto: Mushonifin/Sigijateng.id)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Bekerja sama dengan Daya dan Nyala Aksi Indonesia (DNA) Foundation, Semarang Zoo menggelar khitan massal yang menggunakan metode sunat terbaru bernama Mahdian Klamp yang diciptakan dr. Mahdiyan.

Metode Mahdian Klamp membuat pasien sunat tidak mengeluarkan banyak darah dan tidak dijahit.

Direktur Semarang Zoo, Choirul Awaludin mengatakan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari kontribusinya kepada masyarakat.

“Selama ini kan kita menerima kunjungan saja. Nah ini kita ingin berbagi kepada masyarakat tapi bentuknya dengan kegiatan sunat massal anak nusantara,” ungkapnya, Minggu (31/10/2021).

“Jadi sunat massal anak nusantara ini tujuannya memfasilitasi warga yang kurang mampu menyunat anaknya,” tandasnya.

Antusias masyarakat untuk mengikuti kegiatan tersebut cukup baik. Karena itu ia berharap kegiatan sosial tersebut tidak hanya sekali dalam setahun.

“Saat ini (peserta sunat) ada 25 anak, kemungkinan (sunatan massal) bulan depan ada lagi,” ucapnya.

Penanggung jawab sunatan massal dari Rumah Sunat, DNA Foundation Asep mengatakan rumah sunat untuk warga yang memiliki cukup biaya untuk berkhitan. Sedangkan DNA Foundation sebagai sebuah yayasan milik rumah sunat untuk membantu warga agar bisa berkhitan secara cuma-cuma.

“Fokusnya kepada yatim atau dhuafa. Untuk membantu adik-adik yang sudah waktunya disunat tapi ada keterbatasan pada biaya. Nah, kita bantu dengan sunatan massal,”

Dia menjelaskan, proses menyunat anak tidak menggunakan laser karena dari pengalaman dirinya menggelar sunatan, penggunaan laser dalam menyunat ada efek sampingnya.

“Kita sunatan massal ini menggunakan metode mahdian klamp. Jadi ini metode terbaru dari teknologi sunatan, tidak banyak keluar darah dan tidak dijahit,” urainya.

“Lukanya setelah 7 (tujuh) hari sudah kering, tidak ada pantangan makan. Kami tidak menggunakan laser, ini lebih aman, tidak menggunakan jarum jahit,” imbuhnya.

Menurutnya Semarang Zoo punya peran untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan dengan menyunat. Juga memberikan pelajaran tentang satwa-satwa yang harus dilindungi dan menjaga kebersihan lingkungan.

“Anak datang kesini (kegiatan sunatan) tidak hanya disunat, tapi bisa belajar, kenal dengan satwa dan alam,” ujarnya.

Karena itu pihaknya merasa sangat terbantu, dan berharap ada kerja sama lanjutan.

“Kita sangat terbantu sekali, sangat didukung sekali sama Semarang Zoo yang telah memberikan fasilitas tempat, tiket masuk buat peserta, kami berharap kita kerja sama ini bisa terus kita lanjutkan,” ucapnya.

Rurin (45), seorang warga Gang Pelangi Sarirejo, Kabupaten Kendal yang mengikutkan anaknya dalam kegiatan tersebut mengaku bersyukur. Sebagai orangtua dirinya bisa melaksanakan tanggung jawab untuk mengkhitankan putranya.

“Saya sebelumnya terima kasih (sunat massal) sangat meringankan tanggung jawab orangtua. Semoga amal baiknya ini dibalas Allah, semoga juga bisa meringankan warga yang lain,” harapnya. (Mushonifin)

Baca Berita Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here