Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jateng Diperiksa Polrestabes Semarang Karena Kasus Sengketa Tanah

Anggota DPRD Jawa Tengah Fraksi Gerindra, Sriyanto Saputro didampingi oleh kuasa hukumnya, Dio Hermansyah Bakrie, saat dipanggil oleh penyidik Polrestabes Semarang. (foto mushonifin/ sigijateng)

 SEMARANG (Sigi Jateng) – Anggota DPRD Jawa Tengah Fraksi Gerindra, Sriyanto Saputro dipanggil oleh penyidik Polrestabes Semarang terkait perannya sebagai inisiator penutupan sebuah gang yang diduga untuk menghalang-halangi proses pengembangan perumahan di belakang kompleks Perumahan Bumi Wanamukti RT 05 RW 05 Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Pemanggilan yang dilakukan pada Senin (3/5/2021) itu berkaitan dengan munculnya Keterangan Rencana Kota (KRK) yang tidak melibatkan warga setempat sehingga menimbulkan protes. Sriyanto menjelaskan pihaknya sudah menggugat Walikota Semarang secara clash action dan memintanya untuk meninjau lokasi persengketaan tersebut.

Kuasa hukum Sriyanto Saputro, Dio Hermansyah Bakrie saat memantau protal yang dibangun warga di sebuah gang buntu kompleks Perumahan Bumi Wanamukti RT 05 RW 05 Kelurahan Sambiroto, Kecamatan Tembalang (Dok.)

Perselisihan itu sendiri muncul akibat pengembang DE Dwipayana Wanamukiti yang tiba-tiba menggunakan gang buntu di belakang kediaman Sriyanto sebagai akses keluar masuk material pembangunan.

DE Dwipa Wanamukti sendiri telah mengantongi KRK dari Pemkot Semarang, dalam hal Ini Dinas Tata Ruang Kota Semarang. “Namun dalam penyelidikan polisi berdalih karena sudah adanya KRK, maka warga melalui penasihat hukum telah melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri Semarang,” ujar Sriyanto yang menjadi anggota DPRD Jateng itu.

Sementara itu, Kuasa Hukum Sriyanto dan Warga, Dio Hermansyah Bakri mengatakan ada 16 pertanyaan yang diajukan penyidik kepada Sriyanto, di antaranya terkait statusnya sebagai inisiator pembangunan portal dan status kepemilikan warga terhadap wilayah tersebut.

 “Tadi mas Yanto dipanggil Polrestabes Semarang sekitar pukul 11.00 WIB. Pada pemanggilan itu ada 16 pertanyaan, salah satunya terkait masalah KRK, yang kedua masalah kerja bakti, pertanyaan terkait SHM yang muncul 2014 sementara KRK muncul tahun 2021,” ujar kuasa hukum.

Dio mengatakan pihaknye telah bertemu dengan Plt. Kepala Dinas Tata Ruang (Distaru), Mohamad Irwansyah untuk mempertanyakan keluarnya KRK yang jauh setelah SHM keluar. Selain itu, Dio juga mempertanyakan dasar hukum Satpol PP membongar portal warga tersebut.

“Saya sudah bertemu dengan Plt. Kepala Distaru Kota Semrang, Mohammad Irwansyah. Saya mempertanyakan tentang munculnya KRK, apakah pihak dari petugas Distaru sudah turun ke lapangan, tapi Pak Irwansyah menjawab belum pernah. Saya juga mempertanyakan pembongkaran portal yang dilakukan Satpol PP apakah berdasarkan KRK itu? Kepala Satpol PP menjawab tidak tahu,” ungkapnya.

Tanah yang sedang dibangun perumahan oleh DE Dwipa Wanamukti sendiri saat ini sedang dalam penyelidikan oleh KPK ihwal persengketaan antara PT. Araya dan PT. Perhutani.

“Jadi status tanah tersebut masih belum jelas, kok tiba-tiba muncul KRK untuk pembangunan perumahan baru. Padahal masih dalam sengketa antara PT. araya dan Perhutani. Ini diselesaikan dulu status tanahnya,” pinta Dio.

Dio menyesalkan munculnya KRK tidak melibatkan warga setempat. Sementara untuk akses material, pengembang masih bisa menggunakan jalan utama.

Berita Terbaru:

“Saya juga meminta pihak Pemkot Semarang mau menghormati hukum karena KRK dan gambar denah wilayah itu berbeda. Kami meminta walikota untuk turun meninjau permasalahan yang terjadi di Kelurahan Wanamukti,” tandas Dio.

“Tanah itu sendiri saat ini malah ber SHM atas nama Henny Dahlia Puspitasari sejak tahun 2014, tapi KRKnya muncul 2020, kan jauh banget itu. Terkait SHM atas nama Henny itu, hal ini juga bisa muncul kasus lagi, karena jika Henny membeli dari PT. Perhutani sebagai BUMN, ada pelanggaran hukum terkait larangan BUMN menjual asetnya kepada perseorangan,” pungkanya. (Mushonifin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here