WNI Dipastikan Aman, Begini Penjelasan KBRI Beirut

Lebanese Red Cross workers, carry a dead body at the scene where two explosions have struck near the Iranian Embassy killing many, in Beirut, Lebanon, Tuesday, Nov. 19, 2013. The blasts in south Beirut's neighborhood of Janah also caused extensive damage on the nearby buildings and the Iranian mission. The area is a stronghold of the militant Hezbollah group, which is a main ally of Syrian President Bashar Assad in the civil war next door. It's not clear if the blasts are related to Syria's civil war. (AP Photo/Bilal Hussein)

Jakarta (Sigi Jateng) – Seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kota Beirut Lebanon dipastikan dalam kondisi aman dan selamat menyusul ledakan dahsyat yang mengguncang ibu kota Lebanon itu pada Selasa (4/8).

“Berdasarkan pengecekan terakhir seluruh WNI dalam keadaan aman dan selamat. Dalam catatan KBRI, terdapat 1.447 WNI, 1.234 diantaranya adalah Kontingen Garuda dan 213 merupakan WNI sipil termasuk keluarga KBRI dan mahasiswa,” kata Duta Besar RI untuk Lebanon Hajriyanto Y Tohari dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8).

KBRI telah menyampaikan imbauan melalui grup aplikasi percakapan WhatsApp dan melalui simpul-simpul WNI, serta mengimbau agar WNI segera melapor apabila berada dalam situasi tidak aman.

“Sejauh ini WNI terpantau aman. Seorang WNI yang sedang menjalani karantina di RS Rafiq Hariri, yang tidak jauh dari lokasi ledakan, juga sudah terkonfirmasi aman,” kata Dubes Hajriyanto.

KBRI juga telah melakukan komunikasi dengan pihak kepolisian setempat dan meminta laporan segera apabila ada informasi terbaru mengenai WNI dan sepakat akan segera menyampaikan informasi kepada KBRI.

Ledakan sangat besar terjadi di Port of Beirut pada Selasa pukul 18.02 waktu setempat. Lokasi pelabuhan berdekatan dengan pusat Kota Beirut.

Tingkat kehancuran dan kerusakan properti terjadi dalam radius beberapa kilometer dari pusat ledakan. Sejauh ini, sedikitnya 78 orang dilaporkan tewas akibat ledakan, sementara sekitar 4.000 orang lainnya luka-luka.

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan ledakan tersebut berkaitan dengan 2.750 ton amonium nitrat yang ditimbun selama enam tahun di gudang pelabuhan.

Aoun menyebut penimbunan zat kimia bersifat eksplosif tersebut “tidak dapat diterima”, karena dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan aspek keamanan.

Baca Berita Lainnya

Amonium nitrat adalah senyawa kimia yang biasa digunakan untuk pupuk dan menjadi campuran zat dalam konstruksi pertambangan. (Ant/dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here