Tingkatkan Keaktifan Siswa pada Pembelajaran Daring Melalui Model Problem Based Learning (PBL)

Ilustrasi

Penulis : Andreas Trisatya Laksana Guru Kelas SD

Di awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan munculnya virus Corona atau COVID-19. Pemerintah Indonesia menghimbau masyarakat  untuk tetap di dalam rumah dan mengisolasi diri. Pemerintah juga menerapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka penanganan COVID-19.

Dengan harapan virus tidak menyebar lebih luas dan upaya penyembuhan bisa berjalan maksimal. Dalam arti pembatasan sosial ini, berbagai aktivitas di luar rumah pun juga dibatasi. Bahkan kegiatan pendidikan kini dilakukan secara online melalui pembelajaran daring.

Pembelajaran daring dilakukan dengan sistem belajar jarak jauh, dimana Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) tidak dilakukan secara tatap muka. Sehingga, pembelajaran daring dilakukan dengan memanfaatkan teknologi khususnya internet.

Agar tetap bisa melaksanakan kegiatan pembelajaran, maka media yang digunakan, baik media cetak (modul) maupun non cetak (audio/video), komputer/internet, siaran radio dan televisi. Pada pembelajaran Daring, peserta didik dapat menjadi kurang aktif dalam menyampaikan aspirasi dan pemikirannya, sehingga dapat mengakibatkan pembelajaran yang menjenuhkan.

Andreas Trisatya Laksana – Guru Kelas SD

Seorang siswa yang mengalami kejenuhan dalam belajar akan memperoleh ketidakmajuan dalam hasil belajar. Untuk itu, diperlukan pendorong sebagai penggerak semangat dalam memotivasi siswa agar aktif belajar sehingga dapat memiliki prestasi belajar.

Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Keaktifan belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan (Sardiman, 2001:98).

Belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktifitas, baik aktifitas fisik maupun psikis. Aktifitas fisik adalah siswa giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain maupun bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang memiliki aktifitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak–banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran.

Kurikulum 2013 yang saat ini dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir sebagai berikut:  1) pola pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama 2) pola pembelajaran satu arah (interaksi guru-peserta didik) menjadi pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/ media lainnya).

3) pola pembelajaran terisolasi menjadi pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet) 4) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains) 5) pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim).

 6) pola pembelajaran alat tunggal menjadi pembelajaran berbasis alat multimedia 7) pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik; 8) pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan 9) pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis.

Permasalahan pembelajaran itu merupakan gambaran yang terjadi di Sekolah pada saat ini. Bahwa pembelajaran daring yang dilakukan masih belum optimal, sebab guru tidak menggunakan model pembelajaran yang interaktif dalam proses pembelajarannya. Sehingga siswa kurang aktif, cepat merasa bosan.

Salah satu model pembelajaran yang dapat mengatasi masalah itu yakni dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning atau Model pembelajaran berdasarkan masalah. Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentik.

Ilustrasi

Di mana penyelidikan tersebut membutuhkan penyelesaian dari permasalahan yang nyata. Pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa berkerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh guru dan siswa. Pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerja sama antara siswa-siswa (Trianto,2010)

Model Pembelajaran PBL Problem Based Learning ( PBL ) merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk ” belajar bagaimana belajar”, bekerja sebagai kelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.

Menurut Levin menguraikan bahwa PBL merupakan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menerapkan pemikiran kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan pengetahuan konten untuk masalah dunia nyata dan isu-isu.

Menurut Ngalimun PBL merupakan alternatif model pembelajaran yang tepat dimana dalam pembeljaran berbasis masalah kondisi yang harus tetap dijaga adalah suasana kondusif, terbuka, demokratis, dan menyenangkan agar peserta didik dapat berpikir optimal. Dari beberapa pendapat diatas, bisa disimpulkan bahwa model pembelajaran PBL  merupakan model pemebelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata untuk memulai pembelajaran.

Sehingga model pembelajaran tersebut membuat siswa berpikir kritis dan lebih aktif. Model pembelajaran Problem Based Learning menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa, meningkatkan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa. Selain itu, membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dunia nyata.

Serta membantu siswa mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang dilakukan, mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan menyesuaikan dengan pengetahuan baru.

Juga, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang di miliki dalam dunia, mengembangkan minat siswa secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir, memudahkan siswa dalam mengusai konsep – konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah.

Diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran daring akibat pandemi COVID-19 ini, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat meski dengan keterbatasan yang ada. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here