Selama Covid-19, Berdampak 94 Persen UMKM Alami Penurunan

Kondisi pandemi 58,8 persen UMKM memutuskan untuk menurunkan harga jual produk dan jasanya guna mempertahankan usaha.

Jakarta (Sigi Jateng) – Selama pandemi covid-19, lebih dari 94 persen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mengalami penurunan penjualan akibat dampak wabah tersebut.

Hal itu diungkapkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) melalui hasil survei yang dilakukan secara daring. Yakni sepanjang periode 1-20 Mei 2020 terhadap 679 responden yang merupakan pelaku UMKM yang tersebar di 24 provinsi.

Kepala P2E LIPI Agus Eko Nugroho dalam webinar bertajuk “Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kinerja UMKM: Mitigasi dan Pemulihan” dia menjelaskan penurunan penjualan terbesar dialami oleh UMKM yang mengandalkan toko fisik, penjualan langsung dan reseller.

“Jika dilihat dari hasil survei, mayoritas penjualan mengalami penurunan ada sekitar 94,7 persen. Penurunan terbesar dialami UMKM yang mengandalkan toko fisik, penjualan langsung dan reseller,” katanya, Senin (29/6).

Dia menuturkan kondisi pandemi juga menyebabkan 58,8 persen UMKM memutuskan untuk menurunkan harga jual produk dan jasanya guna mempertahankan usaha. Hal itu disebabkan keuntungan menurun lebih dari 75 persen sebagaimana dialami 43,3 persen pelaku UMKM.

Terkait struktur biaya UMKM, Agus menjelaskan biaya produksi ternyata tetap atau bahkan meningkat selama pandemi. Ia merinci bahan baku mengalami peningkatan signfikan meski biaya transportasi dan tenaga kerja relatif tetap.

“Dari situ, kita bisa simpulkan bahwa pandemi secara umum akan menurunkan profit secara signifikan akibat penurunan penjualan sementara biaya produksi tetap dan akan meningkat,” katanya.

Mayoritas usaha yang disurvei berada pada skala usaha ultra-mikro dan mikro dengan mayoritas lama usaha 0-5 tahun. Responden juga memiliki proporsi yang berimbang berdasarkan cara penjualan antara daring dan luring.

Agus menyebutkan hampir seluruh UMKM memiliki langkah yang sama untuk mempertahankan bisnisnya mulai dari mencari pasar baru, mencari pemasok bahan baku yang lebih murah, mengurangi tenaga kerja dan mengajukan penundaan pembayaran kredit.

“Selain penundaan pembayaran kredit, usaha menengah juga memilih pengajuan keringanan bunga,” pungkasnya. (Ant/dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here