Pandemi Covid-19, Rumah Jadi Surga

M. Rikza Chamami Dosen UIN Walisongo
ust_Rikza_Chamami

SIGIJATENG — Salah satu hal yang terasa beda di musim pandemi covid-19 adalah #stayathome, di rumah saja. Sepintas terasa aneh. Tapi itu sudah menjadi nyata. Bahkan soal ibadah bagi umat Islam juga mengalami hal yang sama. Sebulan penuh bulan Ramadan, umat Islam melaksanakan ibadah dari rumah. Bahkan shalat idul fitri juga dijalankan dari rumah.

Pesan hikmah dari kondisi semacam ini, menjadikan keluarga selalu bersama-sama. Orang tua yang asalnya kerja di luar rumah, anak yang biasanya mencari ilmu di luar rumah, berubah drastis. 

Semuanya dilakukan dari rumah. Termasuk orang tua turut serta mendampingi anak-anak belajar online. Bapak dan Ibu yang semula jarang shalat jama’ah, juga dilatih untuk membuat jama’ah dari rumah.

Bangunan dasar inilah yang mungkin dapat dimaknai sebagai awal mula surga dibentuk. Benar sekali, surga yang dilahirkan dari rumah ini menjadi penting. Keluarga sakinah mawaddah wa rahmah benar-benar dapat diukur dari masa pandemi ini. Jika memang keluarga yang harmonis, maka di rumah saja menjadi nikmat. Lain halnya, jika problem rumah tangga itu bergejolak, maka di rumah saja menjadi duka.

Inilah yang diajarkan oleh agama Islam tentang pentingnya keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, keluarga yang dibangun dengan harmonis dan edukatif. Nilai keharmonisan salah satunya diukur dari kerasannya tinggal di rumah bersama keluarga. Dan dari kebersamaan itu lahir nilai-nilai pendidikan keluarga yang dapat menjadi penyemangat untuk maju dan dekat dengan Allah SWT.

Secara tegas Allah SWT menyebutkkan: “Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Ini menjadi bukti bahwa dalam sebuah keluarga ada dua tanggungjawab dalam menjaga keimanan seseorang untuk bisa jauh dari neraka. Pertama, menjaga pribadi-pribadi muslim agar menjadi orang beriman dan ahli surga. Dan kedua, menjaga keluarganya agar teguh imannya dan tidak melaksanakan maksiyat.

Untuk mewujudkan itu semuanya, tentu bisa diawali dari kehidupan berumah tangga. Dan rumah menjadi madrasah pertama bagi pendidikan anak. Oleh karenanya, Rasulullah SAW memberikan pesan agar menjadikan rumah sebagai surga: “Rumahku surgaku”.

Dengan cara apa? Tentu dengan memulai pendidikan agama bagi anak-anak. Melatih anak dengan dasar-dasar Islam yang kuat, belajar Al-Qur’an, cinta Rasulullah dan mengajari hidup sopan santun bermasyarakat.

Surga yang dibangun dari rumah ini akan menjadi modal yang sangat besar bagi generasi muslim. Kalau sejak di dunia, surga sudah disiapkan dengan baik, maka surga di akhirat mudah digapai. Sebaliknya, jika di dunia hanya menyiapkan ladang neraka, maka neraka tempat yang jadi hunian kelak.

Salah satu bekal yang diperlukan untuk mendidik generasi muslim menjadi ahli surga adalah dengan ilmu pengetahuan, terlebih ilmu-ilmu agama Islam. Sebab dengan pengetahuan ilmu agama Islam yang utuh, maka orang akan dapat menjalankan Islam secara sempurna sesuai ajaran Rasulullah SAW.

Sayyidina Ali RA pernah berpesan mengenai cara agar dapat menjadi ahli surga, yaitu: membekali ilmu, mengajarkan akhlaq mulia, mengajak taat kepada Allah dan menjauhkan dari kemaksiyatan.

Keempat hal ini akan lebih mulia jika dimulai dari ajakan-ajakan dari rumah. Termasuk orang tua memberikan contoh kepada anak-anaknya gemar ngaji, sopan santun, rajin jama’ah shalat dan mengajak berinfaq-shadaqah.

Dengan cara itu semua, rumah akan menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi ilmu dan menanamkan akhlaq mulia bagi keluarga. Maka rumah itu akan menjadi surga.

(M. Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo dari Kudus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here