Kunjungi Rumah Batik Difable Blora, Mahasiswa KKN UIN Diajak Membatik dengan Tema 3M

Lima belas mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang kelompok 75 berfoto bersama penggerak Rumah Batik Difabel Blora Mustika. (foto tim kkn UIN)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang kelompok 75 berkunjung di Rumah Batik Difabel Blora Mustika pada Jumat (16/10/2020) siang. 

Lima belas mahasiswa KKN itu melihat dan mengikuti proses pembuatan batik mulai dari pengecapan hingga pewarnaan.

Rencananya, batik yang dibuat bersama dan bertemakan corona ini akan dijadikan masker untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat Blora. Tema corona diambil karena para pembatik ingin ikut andil dalam mengkampanyekan 3M dan mengajak masyatakat untuk taat menjalankan protokol kesehatan.

Dilihat dari namanya, Rumah Batik Difabel Blora Mustika memang mempekerjakan kaum perempuan difable. 

Mbak Rin, salah seorang difabel yang menjadi penggerak Difabel Blora Mustika mengatakan, berkarya adalah tentang perasaan, mereka yang mampu berkarya adalah orang-orang hebat yang berhati kuat. 


Menurutnya, salah satu pekerjaan yang memiliki input sekaligus output bagus adalah membatik. 

“Di balik kebesaran karyanya, membatik adalah pekerjaan hati, seperti menulis biasa, pelan saja, pakai perasaan,” ucap Mbak Rin ketika mengajari salah satu mahasiswa KKN yang belajar menyanting.

Ketika ditanya apa motivasi terbesar Mbak Rin setiap mendampingi perempuan-perempuan difabel di Blora, dia menjawab dengan prinsipnya bahwa penghargaan kemanusiaan harus dirasakan oleh setiap insan tak terkecuali oleh para difabel. 

“Sebab perhargaan ini adalah anugerah Tuhan yang begitu indah yang diperoleh dengan berkarya,” tukasnya. 

Oleh karena disambut dan diajarkan dengan hati, lima belas mahasiswa KKN yang hadir merasakan kegembiraan dan kenyamanan.


Ketika kunjungan ini, mahasiswa KKN UIN Walisongo juga didampingi membatik oleh Sukandar yang menjadi penggerak difabel Blora. Sukandar sendiri merelakan rumahnya dijadikan tempat berkarya sekaligus Sekretariat Difabel Blora Mustika sejak berdiri tahun 2011.

“Mahasiswa akhirnya mengerti di balik batik Difabel Blora Mustika motif corona yang beberapa waktu lalu banyak menarik perhatian masyarakat, juga batik-batik dengan corak khas Blora yang sudah pernah dipasarkan hingga mancanegara, bahkan sampai di tangan Pak Jokowi, Presiden kita, ada kekuatan hati dari teman-teman difabel di Blora untuk mau berkarya bagi diri sendiri dan berbagi untuk bangsa,” ungkap Sukandar meceritakan pengalaman membatiknya selama ini.

Betari Imasshinta, salah seorang anggota KKN RDR UIN Walisongo Semarang Kelompok 75 mengatakan dia dan teman-temannya bisa belajar tentang perjuangan dan bekal hidup yang bermanfaat.

“Dari ungkapan tersebut, para mahasiswa KKN sekali lagi diajarkan bagaimana karya terbesar dalam hidup diciptakan oleh hati yang ikhlas. Dan berjuang untuk kemanusiaan adalah bekal agar hidup bermanfaat,” gumamnya. (Mushonifin)

Catatan Redaksi: Bersama lawan virus corona. Sigijateng.id, mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan ibu, lakukan 3M (Wajib Memakai Masker, Wajib Mencuci Tangan, Wajib Menjaga Jarak Hindari Kerumunan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here