Karena Hal ini, Masih Banyak Warga Lereng Merapi Yang Belum Mengungsi

Warga lereng merapi masih beraktivitas seperti biasa.

SOLO (Sigi Jateng) – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi dari waspada menjadi siaga sejak 5 November lalu. Warga dihimbau tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana (KRB) III atau hanya berjarak 3-5 kilometer dari puncak Merapi.

Meski ratusan warga sudah meninggalkan KRB III, namun tak sedikit yang masih enggan mengungsi. Mereka beralasan kondisi Merapi belum membahayakan. Belum ada tanda-tanda akan terjadinya erupsi seperti yang terjadi tahun 2010 lalu. Ada 3 desa yang masuk KRB III di Kabupaten Klaten, yakni Sidorejo, Tegalmulyo dan Balerante, Kecamatan Kemalang.

Salah seorang warga Dukuh Sambung, Desa Balerante, Widodo, mengaku, rumahnya hanya berjarak 3 kilometer dari puncak Merapi. Ia dan sejumlah warga lainnya memutuskan untuk tetap beraktivitas mencari pakan ternak dan bertani sambil menunggu perkembangan Merapi dari pemerintah. Ia mengaku tidak takut dengan kondisi Merapi saat ini karena belum menunjukkan tanda tanda bahaya.

“ Mereka kan masih tenang tenang saja, karena belum ada tanda tanda signifikan dilihat secara menakutkan dari atas. Jadi mereka masih beraktifitas seperti biasanya,” terang Widodo, Sabtu (21/11/2020).

Kendati demikian, lanjut Widodo, warga tetap waspada dengan kondisi tanda-tanda yang dilihat langsung dari Merapi. “Saya tenang-tenang saja, masih seperti biasa,” ujarnya.

Widodo mengaku belum ada rencana untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.Ia menilai, kondisi Merapi saat ini belum ada tanda tanda yang menakutkan. Berbeda dengan saat erupsi tahun 2006 dan 2010 silam. Dimana saat itu warga takut dan segera mengungsi setelah muncul tanda-tanda yang menakutkan dari puncak Merapi.

“Kalau kita berpengalaman tahun 2006 dan tahun 2010. Waktu itu kita takut karena di atas memang benar-benar ada tanda alami dan bisa dilihat dengan kasat mata. Tapi saat ini kan baru tanda-tanda yang diberikan oleh pemerintah. Di puncak itu belum ada tanda-tanda yang kelihatan,” jelasnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengingatkan kepada warga yang masih berada di KRB III agar lebih meningkatkan kewaspadaan.  Sesuai informasi dari BPPTKG yang diterimanya, batas waktu erupsi Merapi belum bisa diprediksi.  BPPTKG, jelas Doni, belum bisa memastikan. Karena alat yang ada hanya bisa mendeteksi kemungkinan-kemungkinan.

“ Perkembangan saat ini, menurut ketua BPPTKG, tingkat kegempaanya lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2006. Sehingga keputusannya harus diambil, hingga ada perubahan status dari waspada ke siaga,” ungkap Doni Monardo.

Kepada masyarakat yang belum yang masih enggan mengungsi, Doni menyampaikan memang dibutuhkan kerjasama dari semua pihak. Karena saat ini kondisinya masih terkontrol dan mungkin resiko bahayanya masih agak relatif aman, maka prioritas utama pengungsian adalah masyarakat yang masuk kelompok rentan.

“Masyarakat yang secara fisik masih sehat, kemudian usianya masih muda, masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Saya tadi juga ke pos pemantauan yang bisa mendapatkan informasi perkembangan Merapi secara real-time. Ketika nanti ada bahaya, akan segera diketahui oleh masyarakat,” pungkasnya.  (Raditya Hermansyah)

Berita Lainnya:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here