Islam Melarang Praktik Perjudian, Inilah Landasan Mengapa Judi Diharamkan

Ilustrasi : Stop Judi.

SIGIJATENG – Perjudian termasuk salah satu penyakit masyarakat (pekat). Praktek perjudian ini telah menjamur di sekitar kita. Dan ini tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh penjuru dunia.

Dan prkatek perjudian ini juga sudah ada sejak zaman dahulu kala, sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Terbukti di dalam Alquran juga terdapat ayat-ayat yang mengharamkan praktek perjudian.

Banyak ragam jenis judi. Ada yang memakai alat ada juga yang tidak memakai alat. Ada yang terang-terangan ada yang sembunyi-sembunyi.

Bagaimana aturan praktek perjudian di agama Islam? Dengan tegas Islam mengharamkan prakek perjudian. Larangan itu salah satunya tertuang di QS al- Maidah ayat 90)

“Sesungguhnya (minuman) khamar (arak/memabukkan), berjudi (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS al-Maidah: 90).

Ayat ini secara tegas menunjukkan keharaman judi. Judi dalam terminologi agama diartikan sebagai ‘suatu transaksi yang dilakukan  dua pihak untuk kepemilikan suatu benda atau jasa yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain dengan cara mengaitkan transaksi tersebut dengan suatu tindakan atau kejadian tertentu’. (Lihat: Rafiq al-Mishri, Al Maysir wal Qimar, hlm 27-32). 

Selain judi itu rijs yang berarti busuk, kotor, dan termasuk perbuatan setan, ia juga sangat berdampak negatif pada semua aspek kehidupan.

Mulai dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, moral, sampai budaya. Bahkan, pada gilirannya akan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, setiap perbuatan yang melawan perintah Allah SWT pasti akan mendatangkan celaka. Perhatikan firman Allah SWT selanjutnya tentang efek negatif yang timbul dari judi:

”Sesungguhnya setan itu bermaksud permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS al-Maidah: 91). 

Karena judi merupakan perbuatan setan, maka wajar jika kemudian muncul upaya-upaya untuk mengaburkan makna judi.

Sebab, salah satu tugas setan terdiri dari jin dan manusia adalah mengemas sesuatu yang batil (haram) dengan kemasan atau nama-nama yang indah, cantik, dan memiliki daya tarik, hingga tampak seakan-akan halal. Allah SWT berfirman: 

 ”Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” (QS al-An’am: 112).

Juga perhatikan firman-Nya: (QS al-An’am: 43), yang artinya :

 ”Dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan keindahan apa yang selalu mereka kerjakan.”

Rasulullah SAW juga telah mensinyalir perbuatan setan yang demikian itu sebagai, ”Surga itu dikelilingi  sesuatu yang tidak menyenangkan, sedangkan mereka (setan) dikelilingi sesuatu yang menyenangkan).” (HR Bukhari Muslim).

Sudah jelas dan tegas tentang dalil keharaman judi. Mari, mulai jauhilah judi. Mulailah dari diri kita masing- masing dan keluarga untuk menjauh dari praktek  perjudian. Karena memang judi hanya akan mengantarkan kepada kesengsaraan, di dunia dan akhirat.

Judi di Indonesia

Negera Indonesia juga dengan tegas melarang praktek perjudian. Beberapa peraturan yang mengatur mengenai perjudian, seperti yang diatur dalam Pasal 303 Kitab Undang-Undangn Hukum Pidana (KUH) dan untuk perjudian online diatur dalam Pasal 27 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU 19 /2029).

Pasal 303 bis ayat (1) KUHP , berbunyi: 1) Diancam dengan kurungan paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak sepuluh juta rupiah:

  1. barangsiapa menggunakan kesempatan untuk main judi, yang diadakan dengan melanggar peraturan pasal 303;
  2. barangsiapa ikut serta permainan judi yang diadakan di jalan umum atau di pinggirnya maupun di tempat yang dapat dimasuki oleh khalayak umum, kecuali jika untuk mengadakan itu, ada izin dari penguasa yang berwenang.

 Sementara itu mengenai perjudian online diatur dalam Pasal 27 ayat (2) UU ITE yang berbunyi: Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian. Ancaman terhadap pelanggaran ini diatur dalam Pasal 45 ayat (2) UU 19/2016, yakni: Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Selama ini aparat penegak hukum di Indonesia, yakni polisi juga sudah sering melakukan razia, menangkap para pelaku, namun entah mengapa praktek judi juga masih saja menjamur. Malah, ibarat pepatang hilang satu tumbuh seribu.(**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here