Hikmah Jumat; Tidak Boleh Putus Asa

Ilustrasi: Manusia boleh bersedih, tapi jangan putus asa
ust_Rikza_Chamami

SIGIJATENG – Hidup itu selalu dinamis. Ada suka, ada juga duka. Ada bahagia dan kadang sedih. Semuanya sudah diatur oleh Allah Swt. Yang pasti bahwa menghadapi kondisi demikian harus tetap tabah dan penuh tawakkal. Termasuk ketika kita menghadapi situasi pandemi covid-19.

Ada kebiasaan baru yang perlu diadaptasikan dan semuanya itu memiliki manfaat yang cukup besar. Kebiasaan menjaga kesehatan, menjaga kebersihan, disiplin, solidaritas dan menghargai orang. Agama Islam telah mengajarkan itu semua.

Makanya, ketika kondisi pandemi ini belum berakhir, kita tidak boleh putus asa. Kita semuanya tetap optimis bahwa ada solusi kehidupan yang lebih baik. Dengan tanpa putus asa, langkah-langkah pemutusan mata ranta covid-19 akan dapat ditempuh sesuai protokol yang ada.

M Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo

Shahabat Ibnu Mas’ud pernah menyampaikan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Pendosa yang mengharapkan rahmat Allah adalah lebih dekat kepada Allah, daripada ‘abid (orang yang ahli ibadah) yang membuat orang berputus asa dari rahmat Allah”.

Ini menunjukkan bahwasanya hidup itu harus optimis dan dekat dengan Allah. Optimisme menatap kehidupan yang lebih normal akan membuat semangat. Sedangkan dekat dengan Allah seraya rajin beribadah akan membuat hati adem-ayem.

Allah Saw juga berfirman dalam Surat Azzumar: 53: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Ketika manusia sadar bahwa menghadapi kehidupan itu sedang susah payah, maka ini berarti ujian. Ketika ada harapan yang tidak tersampaikan, dan justru ada kenyataan lain, ini berarti musibah. Mungkin kita lupa Allah atau mungkin kita banyak melakukan dosa. Maka perlu intropeksi diri dengan segera bertaubat dan menguatkan disiplin ibadah.

Salah satu cermin ibadah yang menguatkan jatidiri dengan tanpa putus asa adalah ibadah haji dan qurban. Haji menjadi penegas tekat istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar yang berusaha dan bertawakkal pada Allah. Ia tidak kenal putus asa dan akhirnya Allah memberikan air yang kemudian dinamakan Zam-Zam (11 meter dari Ka’bah dengan kedalaman 42 meter) hingga bisa dinikmati anaknya, Ismail.

Demikian juga ibadah qurban. Dimana Allah Swt memberikan ujian pada Nabi Ibrahim dan Siti Hajar untuk mengikhlaskan anak tercintanya Ismail agar disembelih di perbukitan Mina. Dengan keikhlasannya, Allah segera menggantikan dengan seekor kambing.

Jika kita melihat pesan moral dan pesan sosial dalam ibadah haji dan qurban ini, maka semua manusia akan tahu bahwa yang memiliki kekuasaan tunggal hanya Allah. Manusia ditugaskan di bumi sebagai khalifah (utusan) agar dapat menjadikan bumi asri dan damai.

Bumi yang kita tempati butuh kasih sayang. Termasuk manusia yang ada di bumi juga butuh kasih sayang. Bukan hanya kasih sayang manusia kepada manusia saja, tetapi kasih sayang kepada siapapun dan apapun baik di bumi dan langit.

Kita bisa melihat perintah Allah agar umat Islam menjalankan haji: “Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana”. Perintah untuk melaksanakan ibadah qurban: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”

BACA ARTIKEL LAINNYA:

Ada dua kata kunci yang perlu dipegang, yakni: mampu dan shalat. Berarti agar manusia dapat sempurna dan kuat melaksanakan perintah Allah butuh kemampuan (ekonomi, sosial, budaya, perjalanan dan kesehatan). Termasuk agar manusia dapat menjalan ibadah dengan baik dapat diukur dari disiplin melaksanakan shalat. Semoga Allah memberikan kekuatan dan menjauhkan sifat putus asa dalam kehidupan kita.*)

M. Rikza Chamami, Dosen Mudan UIN Walisongo dari Kudus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here