Hikmah Jumat: Sabar Menghadapi Musibah

M Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo
ust_Rikza_Chamami

SIGIJATENG  — Hampir semua orang bertanya: “Kapan corona ini berakhir?…” Untuk menjawabnya memang tidak mudah. Sebab para ahli pun masih silang pendapat soal kapan pandemi di seluruh penjuru dunia ini hilang. Maka digagaslah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau yang disebut new normal: yakni semangat untuk tetap waspada pada ganasnya covid-19 dengan tetap beraktifitas sesuai protokol kesehatan.

Kalau saja covid-19 disebut sebagai musibah, maka hari ini kita sedang diajak untuk belajar sabar. Sabar memang tidak mengenal awal dan akhir. Sesuai dengan arti sabar yakni tahan menghadapi cobaan, tidak mudah marah dan tidak mudah patah hati. Kapanpun harus siap tahan banting menghadapi semua kondisi.

Bahagia dan sedih yang ada itu sudah digariskan Allah SWT. Termasuk adanya pandemi semacam ini. Butuh satu keyakinan yang perlu dipegang bahwa Allah SWT tidak akan ridla pada hambaNya untuk sedih selamanya. Ada waktunya kebahagiaan itu hadir sebagai jawaban kemahaagungan dan kemahakasih sayangnya Allah pada hambaNya.

Allah SWT berfirman dalam surat at-Taubah ayat 51:  “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Allah telah menetapkan setiap peristiwa yang terjadi. Dan hanya kepada Allah, umat manusia berlindung.

Dalam ayat lainnya, Allah juga memberikan penegasan mengenai Ia adalah pencipta dan pemilik segala sesuatu. Allah boleh saja berbuat apa pun sesuai kekuasaan-Nya dengan apa yang dikehendaki.

Baca Lainnya

Maka, kita wajib bersabar, sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an: “Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali untuk dihisab (QS al-Baqarah: 155-156).

Musibah yang sedang kita hadapi bersama ini merupakan teguran Allah. Manusia sedang diingatkan dengan penuh kasih sayangnya tentang kekuasaan. Bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan abadi, manusia yang merasa kuasa, nyatanya tidak kuasa. Kalaupun merasa kuasa, itu sebatas kekuasaan manusia. Dan faktanya, manusia tidak kuasa menghadapi covid-19.

Jika kita hendak memahami secara utuh tentang kekuasaan Allah, cukuplah covid-19 ini jadi tanda. Jutaan ahli di dunia belum sanggup menemukan obat. Orang yang nampak sehat, ternyata positif covid-19. Orang yang gagah, bisa terpapar. Orang yang ahli dan profesional bisa meninggal dunia karena virus ini.

Justru disinilah Allah memberikan ujian pada hambaNya. Ada satu hadits pendek yang perlu direnungi bersama. Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah mencintai seseorang, maka Ia akan mengujinya. Kalau orang itu sabar, maka Allah akan menjadikannya orang mulia (mujtaba). Dan jika ia rela menerimanya, maka Allah akan menjadikannya sebagai orang pilihan yang istimewa (musthafa).

Maka, pandemi covid-19 ini adalah tahapan kehidupan yang harus kita hadapi dengan penuh sabar. Buah dari kesabaran itu akan melahirkan ketenangan hidup—yang tidak mudah patah hati dan serba takut. Sabar juga akan membuat rasa percaya diri dengan memanfaatkan kondisi new normal ini sebagai jalan terbaik untuk tetap bertahan hidup. Tentunya hidup dengan memegang teguh agama yang damai dan menjaga kesehatan setiap waktu.*

(M Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo )

1 KOMENTAR

  1. Masha Allâh.. Jazakallâhu Khairan ustaz Rizka sudah berkongsi ilmu tentang Sabar dengan kita kita… Alhamdulillâh 🤲🏽

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here