HIKMAH JUMAT: Pikiran Positif Hadapi Pandemi

M Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo

SIGIJATENG – Hari-hari di tengah pandemi ada satu kata yang paling ditakuti, yaitu: positif. Apa maksudnya? Positif dari covid-19. Semua orang berharap selalu negatif dari virus yang mematikan ini. Dua kata ini akan menjadi beda jika dipakai untuk kehidupan alam pikir.

Tentu yang diharapkan dari akal pikir adalah positif. Dengan positif, maka proses kehidupan dan kesehatan akan menjadi baik. Lain halnya jika akal pikir ini negatif. Yang terjadi akan sebaliknya: gundah, gelisah, sakit dan rusak.

Disinilah arti dari sebuah kata yang bisa berbeda makna jika dipakai dalam konteks yang berbeda-beda. Sehingga butuh kejelian dan ketepatan dalam penggunaan serta pemaknaan kata “positif” dan “negatif”.

Salah satu hal penting yang perlu dijalakan dalam suasana seperti ini adalah berpikir positif. Saat pandemi belum juga berhenti, banyak pihak yang merasakan dampaknya. Akan tetapi, sebagai manusia beragama tidak sepatutnya larut dan berprasangka buruk kepada Allah Swt.

Ujian yang dirasakan oleh hampir semua umat sedunia ini bisa menjadi pelajaran berharga. Terutama bagi umat Islam agar tetap yakin hidup dengan lindungan Allah Swt. Dan tidak boleh sekali-kali merasa dikucilkan dan jauh dari rahmat Allah. Sebab bukan muslim sejati jika menjadi muslim yang “baperan”.

Salah satu cara menjadi muslim sejati adalah dengan pikiran positif. Kita perlu belajar dari Rasulullah Saw saat  mengalami masa tenggang cukup lama tidak menerima wahyu. Kemudian turun Surat Adh Dhuha. Dan disitulah tanda-tanda kekuasaan itu nyata, bahwa memang hamba terkasih sedang dihadapkan pada ujian.

Ketika rasa cinta itu singgah di hati, maka kealpaan wahyu itu selalu dinanti. Tapi terkadang memang ada praduga negatif: “Ia tidak hadir, maka telah mencampakkan”. Itulah yang tidak boleh dihadirkan dalam jiwa kita. Selama pikiran positif itu ada, maka dalam kondisi apapun pikiran-pikiran negatif itu hilang, dan hadirlah pikiran positif yang membuat jiwa dan raga menjadi sehat.

Maka Allah langsung merespon dengan ayatnya: “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu” (QS. Adh Dhuha: 3). Sebab Allah memang sangat dekat dengan hambanya dengan selalu menurunkan kasih sayang.

Melihat suasana yang demikian kita perlu juga mengenang pesan indah Rasulullah Saw dalam haditsnya: “Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa”. Ini jelas-jelas memotivasi kita semua tentang pentingnya sikap berpikir positif.

Paling tidak dengan berpikir positif akan menumbuhkan rasa optimis yang menjadi dasar untuk meneguhkan nilai agama Islam. Sebab Islam sendiri dibangun dengan prinsip optimisme. Ibadah juga dilandasi dengan sikap optimis yang mampu menyatukan antara manusia dengan Tuhannya.

Dalam suasana serba susah saat pandemi ini, sangat penting sekali agar semua pihak saling bahu-membahu, saling meringankan dan saling berpikir positif. Dengan cara inilah virus berbahaya ini akan segera sirna dan hidup kembali normal.

Termasuk ibadah juga bisa menjadi normal kembali seperti sedia kala. Kita sangat berharap Allah segera mengangkat semua bala’ yang ada di negeri ini.*)

(Oleh M Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here