Hikmah Jumat; Enam Hal Bikin Orang Bahagia dan Beruntung

Ilustrasi
ust_Rikza_Chamami

SIGIJATENG – Musibah yang dapat dihadapi dengan penuh kesabaran akan membuat hati selalu bahagia. Ketenangan batin hasil kebahagiaan itu akan membuat kesehatan jasmani dan ruhani. Oleh sebab itu, kekuatan tawakkal kepada Allah dan usaha untuk menghadapi kenyataan itu menjadi kunci hidup yang paling utama.

Hidup yang sudah digariskan oleh Allah Swt tidak akan bisa diprotes dengan kata-kata. Maka orang bijak mengatakan: “Ketika masa lalumu suram, itu wajar. Tetapi ketika masa depanmu lebih suram, itu adalah kegagalanmu sendiri yang tidak bisa merubah nasib”.

New normal membuat semua kondisi menjadi tidak normal. Kenapa? Karena manusia kaget dengan adaptasi kehidupan baru—yang sangat jauh berbeda. Dari yang hidup tanpa masker, sekarang harus bermasker. Dari kebiasaan berkerumun, harus jadi jaga jarak. Dari tidak biasa cuci tangan, sekarang harus rajin cuci tangan. Ini kebiasaan baru yang benar-benar membuat orang semakin disiplin.

Padahal sejak dulu Islam telah mengajarkan tentang kebersihan dan menjaga jiwa serta raga. Tentunya kondisi pandemi ini menjadi pelajaran kita bersama, tentang pentingnya kesehatan mental, kesehatan jasmani, menjaga kebersihan dan kelangsungan hidup. Agama menjaga perubahan nasib manusia.

M Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo

Maka Allah Swt menegaskan dalam al-Qur’an: “Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu” (QS. Al – Hadid : 20). Ayat ini begitu tegas menyatakan demikian. Sebelum menutup ayat itu, Allah juga mengingatkan tentang dunia yang penuh permainan dan sendau gurau. Termasuk manusia dengan mudah bangga dengan kekayaan dan keturunan—hingga lupa Allah.

Kini, semuanya sudah menjadi bukti bahwa Allah Swt yang berkuasa. Manusia tidak mampu menunjukkan kekuasaannya melawan ganasnya covid-19. Maka, kebahagiaan sejati dalam hidup adalah simbol tentang kekuatan sementara manusia. Bahagia perihal Allah masih memberikan kesehatan dan bahagia Allah memberikan nikmat harta dan keturunan.

Dalam ayat di atas, Allah juga mengibaratkan tanaman yang semula hijau dan menghasilkan rizki bagi petani, itu karena hujan dari Allah. Tetapi ketika tanaman berubah warna menjadi kuning, maka akan hancur (mengakibatkan kerugian bagi petani/gagal panen). Artinya, Allah bisa membuat manusia bahagia. Dan Allah bisa pula membuat manusia kecewe.

Maka Allah mengingatkan: “Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya.” Ini menandakan bahwa manusia harus rajin beribadah mendekat pada Allah. Manusia tidak bisa sombong dan bangga dengan kekuatan dan jabatan yang dimiliki hari ini.

Di saat manusia sombong dengan hartanya, Rasulullah memberikan nasehat: “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya harta atau kemewahan dunia. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan kebahagiaan yang lahir dari hati yang selalu bersyukur kepada Allah agar menjadi umat Islam yang beruntung.

Lalu siapa saja umat Islam yang beruntung? Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (QS al-Mukminun: 1-9).

Islam mengajarkan enam hal yang bisa membuat orang yang beriman akan bahagia dan mendapat keberuntungan, yaitu: khusyu’ ketika shalat, mampu menghindari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat, menunaikan zakat, menjaga alat kelamin, menjaga amanah dan menjaga shalatnya. Allah mengawali nasehatnya dengan shalat khusyu’ dan menutup dengan menjaga shalat. Berarti, shalat menjadi kunci kebahagiaan hidup.*)

M. Rikza Chamami, Dosen UIN Walisongo

Informasi : Hikmah Jumat hadir setiap hari Jumat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here