DPRD Jateng Ingatkan Masyarakat Tetap Waspada Penyakit Demam Berdarah Dengue Masa Pandemi Covid-19

Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Ida Nurul Farida (kanan) saat dialog live radio, Selasa (21/7/2020). ( foto aris syaefudin/ sigijateng)

SEMARANG (SigiJateng) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Ida Nurul Farida mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dengan penyakit demam berdarah dengue (DBD) ditengah segala upaya pencegahan pandemi COVID-19.

Pasalnya penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini masih terus mengancam dan terbukti warga yang menderita penyakit ini juga menular.

Hal ini disampaikan Ida Nurul dalam dialog parlemen live radio di Kota Semarang dengan tema “Waspada Kasus DBD terus meningkat di Jateng saat Pandemi Covid 19” Selasa (21/7/2020). Hadir nara sumber lain melalui jaringan telepon dr Yuli Susanti, Kasi Pencegahan dan Penanggulangan DBD Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

“Kami ingatkan agar warga juga selalu waspada terhadap penyakit demam berdara dengue (DBD) ini. Penyakit ini juga termasuk penyakit menular dan berbahaya,” kata Ida.

Menurut anggota Fraksi PKS DPRD Jateng ini, penyakit DBD ini tidak bisa dikesampingkan karena berdasarkan data Kemenkes selama bulan juni 2020 terdapat kasus DBD sebesar 68.753 kasus dengan kematian sebanyak 500 Jiwa. Di Jawa Tengah sendiri, ditemukan sebanyak 3.189 kasus dengan kematian 47 orang. Padahal kasus DBD ini sampai bulan Mei 2020 di Jawa Tengah menurun hampir 50% dibanding tahun lalu. Menurutnya kasus DBD juga imbas dari dampak kampanye hidup sehat dalam menghadapi wabah Covid -19.

Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yuli Susanti menyampaikan materi lewat sambungan ponsel. ( foto aris syaefudin/sigijateng)

“Data bulan Januari sampai Mei tahun 2020 ini dibanding bulan yang sama tahun kemarin, sudah turun hingga 50%, tapi bulan Juli datanya naik signifikan. Tentu ini menandakan kita harus meningkatkan kewaspadaan,” kata politisi dari Salatiga ini.

Kewaspadaan memang perlu ditingkatkan, kata Ida, karena sebentar lagi akan datang menghadapi musim hujan. Tentu saja pencegahannya perlu memaksimalkan.

Disisi lain, Ida juga meminta kepada Pemerintah yang sekarang sedang sibuk dengan upaya-upaya pencegahan meluasnya wabah Covid-19, juga tidak lupa untuk terus bersosialisasi kepada masyarakat soal adanya penyakit menular lainnya, seperti DBD ini yang terus mengancam.

“Masyarakat dapat berpartisipasi dalam pencegahan DBD dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, menjaga imunitas tubuh dan mengurangi aktifitas diluar rumah yang tak perlu, serta meningkatkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.

Sementara, Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr Yuli Susanti mengatakan kasus DBD Januari hingga Mei tahun ini 2020 lebih sedikit dari tahun 2019 kemarin. Penurunan kasus penyakit DBD pada awal tahun 2020 ini juga salah satu dampak dari pola hidup sehat masyarakat dalam rangka menjalani protocol covid-19.

“Data DBD Januari – Mei 2019 di Jawa Tengah sebanyak 7.692 kasus, tahun 2020 sebanyak 4.094 kasus. Menurun cukup banyak, namun kita harus tetap waspada,” kata Yuli Susanti.

Ditanya kasus tertinggi DBD di Jawa Tengah tahun 2020, Yuli mengatakan, ada perubahan data dibanding tahun 2019 kemarin. Kasus DBD tertinggi di Jawa Tengah pada lima bulan tahun 2020 yakni pertama Kabupaten Batang, kedua Klaten, dan ketiga Cilacap. Selanjutnya Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Purworejo, Kota Solo, Sukoharjo dan Purbalingga.

“Tahun ini Kota Semarang menduduki peringkat ke 12. Kasus DBD di Kota Semarang menurun dratis dan sekarang tidak masuk 10 besar,” ucapnya.

Yuli Susanti memastikan, meskipun saat ini sedang pandemi Covid namun pemerintah tidak lupa untuk bersosialisasi kepada warga untuk tetap waspada dengan penyakit menular lainnya, seperti DBD. Dinas kesehatan provinsi terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan kota/kabupaten untuk selalu mewaspadai penularan penyakit berbahaya lainnya pada musim pandemic covid-19.

“Jadi kami dalam melakukan sosialisasi tidak hanya khusus masalah covid-19 namun juga penyakit menular lainnya. Harapan kami, masyarakat juga tidak lupa dengan bagaimana caranya mengantisipasi dan mencegah dari datangnya penyakit menular lainnya, seprti DBD,” ucapnya.

Baca Berita Lainnya

Dikatakan Yuli, program Jogo Tonggo yang dicanangkan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, pada prakteknya juga tidak hanya menjadi ajang untuk menjaga warga agar terhindar dari penyakit Covid-19 saja, namun juga penyakit-penyakit lainnya.

“Sosialisasi tidak hanya covid 19, tetapi juga penyakit menular lain, yaitu DBD. Kita juga selalu mengingatkan agar masyarakat selalu menjalani pola hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan dalam rangka mencegah penularan berbagai penyakit,” pungkasnya. (adv/aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here