Di Caci Hingga Diteror, Dian Tenaga Paramedis Covid-19 Ini Tetap Berjuang Layani Warga, Begini Kisahnya

Dian Eka (32) tenaga paramedis yang berprofesi sebagai bidan dan bekerja di wilayah Brangsong Kendal. Foto : Istimewa

KENDAL (Sigi Jateng) – Banyak cerita menarik baik suka maupun duka yang dirasakan para tenaga medis di Kabupaten Kendal sepanjang bertugas dalam penanganan Covid-19.

Bahkan, ada yang mengundang rasa empati dari berbagai pihak saat menghadapi masa pandemi Covid-19. Perjuangan para tenaga medis dituntut untuk berjuang keras sebagai bentuk tanggungjawab profesi yang dijalankan.

Salah satunya adalah Dian Eka (32) tenaga paramedis yang berprofesi sebagai bidan dan bekerja di wilayah Brangsong Kendal ini. Dirinya kerap mendapat perlakuan kurang baik dari masyarakat saat mengawal warga terpapar Covid-19.

Cacian, hinaan hingga aksi teror kerap menyasar pada bidan perempuan cantik kelahiran Kendal 1988 ini terutama saat menjalankan tugasnya. Ia pun juga sempat kehilangan support dari suami lantaran tak tega melihat apa yang dialami sang istri.

“Iya pernah saya alami saat masa sulit dan banyak rintangan. Suami juga menyarankan untuk istirahat dari rutinitas sebagai bidan. Ia kasihan dengan yang saya alami. Bahkan, beberapa dari keluarga juga menyarankan hal yang sama,” ucap Dian saat ditemui di Puskesmas I Kecamatan Brangsong, Rabu (29/7/2020).

Meski begitu, dirinya lebih memilih bertahan agar tetap bisa memberi pelayanan kesehatan kepada warganya. Dian berpikir bahwa ada banyak konsekwensi atas setiap profesi yang akan dijalani, terlebih bagi tenaga paramedis.

Sebagai tenaga paramedis penanganan Covid-19 sejak bulan Maret 2020 lalu, Dian telah banyak mencatat puluhan tracing yang dilakukan hingga ke pelosok desa-desa jangkauannya.

Dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dan didampingi Bhabinkamtibmas serta TNI, perempuan cantik berhijab ini acap kali mendapat makian, umpatan dan kata-kata kotor dari sejumlah warga.

Kendaraan yang dicegat, teror pesan Whatsapp, dilempari batu di tempat ia bekerja, hingga dianggap penyebar berita hoax pun pernah dia rasakan dan alami saat menjalankan tugas.

Sedih berbalut lelah hingga air mata menetes tak dapat dia tutupi. Tapi, rasa tanggungjawab Dian berpegang teguh pada prinsipnya untuk tetap menjalankan tugas profesinya sebagai pelayan masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Dian pun sadar dan memaklumi, jika yang dialaminya tersebut lantaran kurangnya informasi dan pemahaman warga terhadap bahaya Covid-19. Disitulah peran tenaga medis untuk memberikan edukasi tentang bahaya maupun cara pencegahan virus Corona yang terus mewabah.

“Pernah ada suatu warga menolak dan menghadang kami. Kata warga, kami dianggap sebagai orang yang mencari-cari sesuatu, mempercepat SPJ turun, bahkan dibilang mencari keuntungan semata. Ada juga warga yang menuduh kita bekerja hanya karena uang,” bebernya.

Kini, ia bersama tenaga paramedis lainnya masih harus berjibaku menangani Covid-19. Terlebih saat kasus positif corona yang terjadi di Kabupaten Kendal meningkat tajam, sementara tidak ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya pandemi ini.

“Imbauan kepada warga tetap rutin kita jalankan, tracing tetap kita lakukan setelah adanya warga yang dinyatakan positif corona. Kita observasi, periksa dan kita sarankan isolasi mandiri. Kalau hasil tes rapid menunjukkan reaktif, kita usulkan untuk dilakukan swab,” terangnya.

Disebutkan Dian, kebanyakan pasien positif nurut untuk dijemput dan diisolasi tanpa perlawanan. Keluarga intinya pun rata-rata mendukung kinerja medis, hanya saja beberapa kerabat jauh hingga tetangga sekitar tak mau untuk dilakukan tracing.

Dengan segudang pengalaman itu, Dian mencoba membalutnya menjadi sebuah motivasi untuk dirinya. Ditambah beberapa motivasi dari keluarga, sahabat, hingga rekan kerja membuat Dian semangat hingga saat ini.

Baca Berita Lainnya

Kini support sistem dari orang-orang terdekat sudah kembali dan bertambah besar. Ia berharap apapun yang diusahakan meskipun pelan akan menuai kebaikan untuk semua orang.

“Yang jelas gak boleh ada kata menyerah, gak boleh ada kata pasrah, yang ada harus tetap melakukan. Toh ini untuk kebaikan bersama. Harapan saya buat teman-teman seperjuangan, kita harus bekerjasama dengan pemerintah desa, dengan aparat setempat. Agar kita kuat, agar penanganan lebih maksimal, agar sejalan dalam menangani covid-19 ini. Kemudian, jangan lupa lindungi juga keluarga kita masing-masing,” pungkas Dian. (Dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here