Dapat Bantuan Biaya, 10 Anak Semarang Mulai Sekolah Daring

Tim Penjangkau Dinsos (TPD) mendampingi tiga anak jalanan ke SMPN 10 Kota Semarang untuk mengambil seragam berlebel sekolah. (foto Mushonifin/Sigijateng)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Sebanyak 10 anak jalanan mendapatkan bantuan biaya sekolah dari sekolah penempatan Tim Penjangkau Dinsos (TPD), Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial Kota Semarang.

Mereka yang menerima beasiswa, mulai Jum’at (7/8/2020) kemarin sudah memulai mengikuti pembelajaran daring sesuai dengan sekolah dimana mereka di tempatkan. 

Koordinator TPD Kota Semarang, Dwi Supratiwi mengatakan 10 orang anak jalanan didapatkan saat pihaknya mengadvokasi anak-anak jalanan yang orang tuanya kesulitan biaya untuk menyekolahkan anaknya. Lalu berkoordinasi dengan Dinas Sosial yang kemudian menyambungkan dengan Dinas Pendidikan untuk membuat skema bantuan bagi anak-anak jalanan tersebut.

Setelah mendapatkan bantuan tersebut, anak-anak langsung mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah secara online.

“Anak-anak mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah secara online selama tiga hari, mereka sudah dimasukan ke dalam grup kelas masing-masing,” ujar Tiwi pada Jum’at (7/8/2020). 

Tiwi mengatakan pada Senin lalu (3/7/2020) telah diadakan pertemuan wali murid yang salah satunya membahas terkait dengan seragam sekolah.

“Anak-anak sudah diminta untuk membeli bahan untuk seragam sekolah sebesar Rp.1.286.000 tiap anak yang teridiri dari baju osis, pramuka, olah raga, batik, sabuk, topi sekolah dan bet sekolah,” jelasnya. 

Dari hasil rapat itu kemudian pendamping mengkomunikasikan dengan dinas pendidikan agar anak-anak tersebut mendapatkan keringanan, karena mereka tidak mampu untuk membeli semua seragam itu. 

Dari laporan pendamping kemudian Dinas Pendidikan melakukan upaya untuk mencari jalan keluar tersebut, mereka mengkomunikasikan dengan sekolah agar membantu meringankan beban anak-anak dan disepakati bahwa sekolah akan memberikan gratis seragam olahraga dan batik yang merupakan seragam khusus sekolah tersebut.

“Sedangkan untuk osis dan pramuka diminta untuk mengupayakan sendiri dengan mencari bantuan yang lain,” jelas Tiwi. 

Dinas Pendidikan meminta kepada pendamping TPD untuk menindaklanjuti pengambilan seragam ke sekolah masing-masing. 

“Hari ini baru mendampingi tiga anak yang ditempatkan di SMP 10, untuk anak-anak yang lain akan didampingi minggu depan,” tandasnya. 

“Anak-anak dan orang tua diterima baik oleh kepala sekolah SMPN 10. Sebelum diberikan seragam yang di janjikan, mereka diajak diskusi terlebih dahulu tentang proses pembelajaran selama mereka mengikuti daring apakah ada kendala atau tidak,” 

“Anak-anak hanya mengeluhkan tugas yang terlalu banyak dan kuota internet yang terbatas. Sekolah akan berusaha membanti hambatan dari anak-anak tersebut,” pungkas Tiwi.

Sementara itu, Tsaniyatus Solikhah, Direktur Yayasan Anantaka yang membidangi advokasi anak mengatakan bahwa sebenarnya banyak hal yang bisa diupayakan untuk membantu problem pendidikan anak.

“Jika masalahnya adalah biaya pendidikan, sebenarnya ada banyak solusi yang bisa kita kembangkan menjadi skema advokasi atau program bantuan yang berkelanjutan,” ujar wanita yang akrab disapa Ika ini.

Berita Lainnya:

Ika yang juga menjabat sebagai koordinator Minitoring dan Evaluasi (Monev) TPD Kota Semarang menyebut bahwa perlu adanya kesinambungan antara Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan lembaga-lembaga sipil untuk merumuskan cara untuk mengajak seluruh elemen masyarakat saling membantu anak-anak yang kesulitan dalam menjalankan pendidikan.

“Mungkin sebenarnya masyarakat bukannya tidak ingin membantu, mereka sebenarnya hanya belum tahu bagaimana caranya membantu dan disalurkan melalui lembaga apa. Jadi perlu kita rumuskan skema bantuan pendidikam seperti ini,” pungkasnya. (Mushonifin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here