Cerita Dokter Galih Puspitasari; Sempat Frustasi karena Test Swab ke 10 Baru Negatif Covid

dr Galih warga Blora yang kini sembuh dari sakit Covid-19. ( foto agung / sigijateng),

BLORA (SigiJateng) – Dokter Galih Puspitasi kembali bercerita tentang apa yang dalami, yakni terpapar Virus Covid 19. Setelah menjalani perawatan dokter, isolasi mandiri dan swab sampai 10 kali, perempuan lajang ini dinyatakan sembuh dari covid 19.

dr Galih Puspitasari tinggal bersama tiga angggota keluarga. Semua lansia diatas 60 tahun. Baik ibunya, bapaknya dan kakeknya. Untuk itu dia sangat berhati-hati dalam menangani covid 19 ini.

Perempuan 33 tahun ini mengaku, sempat dirawat inap di RSUD Blora selama belasan hari. Berikutnya isolasi mandiri di rumah.
Totalnya dia sakit selama 67 hari. Dengan swab 10 kali.

Dia bersyukur sudah dinyatakan negative covid 19. Sehingga dia bisa beraktifitas dan bekerja seperti biasanya.

Untuk menambah imun tubuh, dia memilih minum madu, vitamin, buah-buahan, berjemur, olahraga dan lainnya. Selain itu perempuan alumnus UNY ini menghabiskan waktu saat isolasi dengan membaca buku dan mendengarkan murotal.

Kepada wartawan sigijateng.id, ia mengaku virus ini berawal bulan April kemarin. Saat itu, kebetulan dia jaga malam di UGD RSUD Blora. Ada pasien datang dengan keluhan sesak nafas. Tidak ada demam. Tidak ada batuk. Namun dia memang sering cuci darah di Solo.

Seperti biasa, dilakukan screneng dan trase. Sudah dilakukan sesuai proser. Pasien juga jujur kalau dari luar kota. Selanjutnya dimasukkan di ruang covid. Pemeriksaan sebenarnya tidak lama. Sekitar 5 menit. Namun jarak memang deket. Dia periksa di tubuh bagian Paru-Paru dengan alat yang dipakai juga kusus ruang isolasi.

“Mungkin saya tertular karena imunitas tubuhnya menerun. Atau saat melepas APD yang kurang hati-hati. Sebab 10 hari sebelumnya kurang tidur. Karena tiap malam bangun dan membantu sang ayah. Selain itu masih kerja. Mungkin kurang fit. Selama ini saya biasanya olahraga. Tapi semnjak itu, gak pernah olahraga. Sehingga daya tahan tubuh kurang fit,” ucapnya.

Sebenarnya, usai melakukan pemeriksaan pasien, perempuan kelahiran 1987 ini paginya masih kegiatan biasa. Masih membuat video promosi. Selain itu, hari berikutnya juga masih berjaga.

Namun, begitu sampai rumah, badannya terasa lemas. Akhirnya dia tes dengan suhu badan.  Ternyata suhunya 40 celcius. Pantas saja tubuhnya lemas. 
“Semenjak itu, saya jaga jarak dengan keluarga. Saya dikamar dan saya tutup. Saya minta makan dikirim dengan piring sendiri. Memang kalau dirumah, saya pakai piring sendir-sendiri. Sejak kecil kami didik seperti itu,” ucapnya.

Saat dilakukan Rapid Test, hasilnya juga negative. Namun karena dia merupakan tenaga medis, meskipun swab saya belum jadi, dia berfikir termasuk orang yang beresiko tinggi. 

“Makanya saya bilang kepada orang rumah, bahwa saya akan didalam kamar sendiri. Dirumah saya juga pakai msaker. Terus saya menghubungi dokter kalau tidak enak badan, Sehingga jadwal jaga dirubah sampai 10 hari kedepan,” ucap dokter yang tinggal di Jalan Cimanuk nomor 5 ini.

SELANJUTNYA >>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here