Begini Cerita Walikota Semarang Saat Positif Covid dan Menjalani Isolasi

    Hendrar Prihadi, pernah diisolasi di rumah sakit karena mengidap covid-19. (Foto Rifky Akbar/SigiJateng)

    SEMARANG (Sigi Jateng) – Sebagai salah seorang yang pernah diisolasi karena terpapar covid-19, Hendrar Prihadi membagikan kisahnya kepada masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dan segera memeriksakan diri ke dokter jika ada gejala-gejala aneh untuk mendapat penanganan dini ketika gejala itu mengarah ke covid-19.

    Calon Walikota Semarang yang memastikan diri menang pada Pilkada 2020 itu bercerita tentang gejala yang ia sendiri tak menyangka bahwa itu adalah covid-19.

    “Sebenernya saya ingin menyampaikan dua hal, yang satu; kabar baiknya adalah insya Allah covid bisa disembuhkan meskipun belum ada vaksin, artinya setiap pasien baik OTG atau dengan gejala klinis, itu bisa diatasi khususnya oleh dokter-dokter yang ada di Semarang ini,” ungkapnya saat dikunjungi di kediamannya pada Kamis (10/12/2020).

    “Kabar tidak baiknya adalah gejala covid itu ternyaya berbeda-beda. Setiap orang mengalami gejala yang tidak sama sehingga saya harap setiap orang sadar diri untuk periksa ke rumah sakit agar bisa mendapat penanganan yang lebih dini untuk covid yang dia alami,” imbuhnya.

    Hendi meminta agar masyarakat mau memeriksakan kesehatannya secara rutin karena gejala covid-19 ternyata bisa bermacam-macam.

    “Ada yang gejalanya penciumannya berkurang, ada yang tidak bisa merasakan makan, ada yang diare, ada yang panas tinggi seperti saya,” ucap Hendi.

    Hendi juga menceritakan pengalamannta ketika diisolasi mandiri di RSUP dr. Karyadi Semarang. Dia mengaku meminta izin untuk membawa TV agar bisa mendaoat hiburan ketika diiaolasi.

    “Pengalaman saya isolasi di rumah sakit insya Allah saya jadi lebih religi karena selalu berdoa mohon kesembuhan. Yang kedua saya mohon sama dokter untuk membaaa TV kare di ICU kan gak ada TV. Lalu ada konseling psikologua setiap dua hari sekali di tiap habis maghrib,” ucapnya.

    “Jadi saya mencoba untuk terus menghibur diri agar tetap kuat secara psikologis dan menguatkan imun tubuh,” pungkasnya.

    Kuri Ake, dosen psikologi UNIKA yang menjadi pemimpin tim dukungan psikososial untuk pasien-pasien covid-19 di Kota Semarang mengatakan bahwa para pasien membutuhkan dukungan mental agar hati mereka tetap riang gembira dan dengan sendirinya menguatkan sistem imun dalam tubuh.
    “Dukungan yang kita berikan namanya dukungan psikososial, jika seseorang sudah mendapat dukungan psikososial dia akan senang akan ceria dan sistem imunnya akan bagus,” ujar pria yang akrab disapa Ake itu.

    Tim relawan psikologi Unika Soegijapranata sendiri saat ini sedang mendampingi 120 pasien Covid-19 di Rumah Dinas Walikota Semarang. Rentang usia pasien yang didampingi berkisar mulai 3 tahun sampai 68 tahun.

    Kegiatan ini dilakukan setiap hari Rabu dan Jumat setiap minggunya untuk memberikan dukungan psikososial agar tidak terjadi tekanan psikologis kepada pasien covid-19 yang di isolasi di Rumah dinas Walikota Semarang dan tenda karantina.

    Kegiatan ini secara rutin dilakukan setiap Rabu dan Jumat pukul 16.00 – 18.00 WIB.

    “Kegiatan kami setiap jam empat sore sampai jam enam sore itu terapi psikologis berbentuk senam. Sedangkan kegiatan lainnya kalau malam ada lomba melukis, lomba nyanyi, minggu depan lomba tik tok, lomba ping pong, lomba cocok tanam dan lain lain,” ungkapnya. (Rifky Akbar)

    Baca Berita Lainnya

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here