Adanya Orang Gelandangan di Jalan Pengaruhi Investor Masuk untuk Berinvestasi

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Muthohar. (foto mushonifin/sigijateng)

SEMARANG (Sigi Jateng) – Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Muthohar mengatakan tata kota dan sistem pengelolaan masalah sosial dapat mendukung perkembangan infestasi di Kota Semarang.

Hal itu dikatakan dalam pembukan ‘Focus Group Discussion (FGD) Penanganan Penerima Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di UNDIP Inn, Jalan Prof Sudarto, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (24/11/2020).

Muthohar mengatakan pengendalian kemiskinan sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur yang saat ini sedang digencarkan.

“Boleh terminal dibangun, bandara dibangun, fasilitas-fasilitas umum diperbaiki. Tapi kalau angka kemiskinan tidak dikendalikan, nilai investasinya akan turun,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, adanya orang yang hidup menggelandang di jalan akan membuat para investor enggan berinvestasi bagi pembangunan.

 “Alhamdulillah setiap laporan selalu ditindaklanjuti dengan cepat. Ada laporan masuk dari Call center 112 atau Bankom langsung ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Dicontohkannya, Ambulan Hebat bisa langsung memberikan pertolongan pertama yang bersifat medis kepada yang membutuhkan bantuan. Bahkan, ketika harus menjalani rawat inap sudah didukung dengan adanya jaminan Universal Health Coverage (UHC) BPJS Kota Semarang. 

“Dahulu, layanan medis susahnya luar biasa. Sekarang ada Ambulan Hebat, kalau gawat darurat langsung dirujuk ke rumah sakit,” bebernya.

Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) Tri Waluyo mengatakan, mulanya ketika Perda Nomor 5 tentang Penanganan Pengemis, Gelandangan, Orang Telantar (PGOT) diterapkan mengalami banyak kendala. Sebab, ternyata permasalahan di Dinsos sangat kompleks. 

“Ternyata permasalahannya tidak hanya satu, ada banyak PPKS yang harus ditangani, ditambah lagi ada anak rentan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjutnya Tim Penjangkauan Dinas Sosial (TPD) Kota Semarang dibentuk pada tahun 2017 lalu. 

“Ini hasil diskusi dengan potensi-potensi yang ada di Dinsos. Pencetusnya itu Mbak Tiwi (Koordinator TPD, Dwi Supratiwi,red),” ungkap Tri sambil.memperkenalkan Dwi Supratiwi.

Lebih lanjut Tri menjelaskan, peran TPD dalam menjangkau klien (istilah penerima manfaat Dinsos,red) yang seolah tak kenal waktu sebagaimana Tim Reaksi Cepat (TRC). Sehingga, kepercayaan masyarakat terus meningkat.

“Ada banyak laporan yang seharusnya masuk ke Satpol PP juga masuk ke TPD. Ini karena langsung ditindaklanjuti dengan cepat, kepercayaan masyarajat juga meningkat,” tandasnya.

FGD, diikuti oleh perwakilan dari semua unsur yang terlibat dalam menangani masalah sosial. Di antaranya TPD, Ambulan Hebat, pengelola panti asuhan, dan sebagainya. (mushonifin)

Berita Terkini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here