Warga Lapor Kejaksaan Soal Proyek Bronjongisasi Rp 3,9 Miliar di Sragen

Warga saat adukan proyek talut ke kejaksaan. (foto santo/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Sragen – Warga Desa Celep, Kecamatan Kedawung endus adanya dugaan korupsi terkait bronjongisasi pemeliharaan berkala anak sungai bengawan Solo di tiga titik sungai. Lantaran nilai proyek yang dirasa cukup besar dan tidak sebanding dengan bahan baku serta kualitas bangunan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pekerjaan tersebut dibawah
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat
Jendral Sumber Daya Air. Pemeliharaan meliputi Sungai Grompol, Desa
Jati Kecamatan Masaran, Sungai Grompol, Desa Sidodadi Kecamatan
Masaran dan Sungai Kedung Mriwis, Desa Celep Kecamatan Kedawung.
Anggaran nilai kontraknya senilai Rp 3,9 miliar.

Perwakilan warga Suyadi Kurniawan lantas melaporkan ke Kejaksaan
Negeri (Kejari) Sragen Kamis (8/8/2019). Laporan tersebut diterima pihak kesekreatriatan Kejari Sragen.

Suyadi menyampaikan ada dugaan korupsi terkait pembangunan
bronjongisasi proyek itu. Sejumlah indikasi seperti pemalsuan tanda
tangan berita acara rapat.

Selain itu, sebelumnya ada permohonan proposal dari warga untuk biaya
talud sebesar Rp 492 juta. Namun justru digelontorkan sebesar Rp 3,9
miliar untuk bronjongisasi di tiga titik tersebut. ”Anggaran yang
membengkak sampai berkali-kali lipat bisa diindikasi terjadi kebocoran
APBN,”  terang Suyadi.

Sejauh ini, proyek yang ditarget berjalan selama 210 hari kalender ini
dikerjakan kontraktor dari Surabaya. Sedangkan Supervisi dari Jakarta.
Sehingga bukan ditangani orang lokal Sragen.

Suyadi menjelaskan kondisi bangunan hanya sekitar 100 meter dan
kedalaman  kurang lebih 3 meter. Bantaran hanya sekedar di bronjong
dengan batu-batu besar. Menurutnya jika di bangun talud dengan
menambahkan semen dan pasir, nilainya juga tidak sebesar yang saat ini
dikerjakan.

”Padahal batu-batunya sebenarnya bisa didapat dari lingkungan sekitar.
Di kedawung juga tidak kekurangan batu,” bebernya.

Dia menyampaikan dalam pengerjaan awal proyek tidak ada sosialisasi ke
warga. Bahkan akibat proyek itu terjadi penyempitan sungai Kedung
Mriwis. Sehingga jika memasuki musim hujan, bisa terjadi longsor dan
banjir. (santo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here