Waoow…. Minyak Atsiri Khafidz Nasrullah Ngargosari Tembus Mancanegara

Bupati Mirna Annisa saat mendampingi Kementerian Koordinator Perekonomian RI melalui Deputi Bidang Perekonomian Rudi Salahudddin saat melakukan peninjauan industri minyak atsiri CV Kendal Agro Atsiri di Desa Ngargosari Kecamatan Sukorejo, Rabu (12/6/2019).


SIGIJATENG.ID
, Kendal
 – Desa Ngargosari Kecamatan Sukorejo memiliki perkebunan tanaman cengkih cukup luas. Dengan potensi perkebunan tanaman cengkih tersebut, ternyata daun cengkih yang sudah gugur bisa diolah dan menghasilkan pundi-pundi rupiah hingga ratusan juta rupiah.

Ditangan salah seorang pemuda asli Kendal, Khafidz Nasrullah (23). Daun cengkih yang berguguran dan diperoleh dari perkebunan cengkih tersebut, ia berdayakan dengan diolahnya melalui proses penyulingan hingga menghasilkan minyak atsiri yang terkandung didalamnya. Pabrik penyulingan minyak atsiri yang ia dirikan lantas dimanfaatkan untuk memanfaatkan potensi yang ada. Sebab, sepanjang perjalanan ke rumahnya di Desa Ngargosari banyak perkebunan cengkih yang daunnya bisa dipakai untuk bahan minyak atsiri.

Berbekal rasa penasaran, Khafidz melakukan riset kecil-kecilan. Selama hampir setahun, ia mempelajari proses produksi hingga pemasaran. Yakin dengan potensi pasar dan ketersediaan bahan baku yang besar, ia mulai membuat minyak atsiri. “Ide untuk membuat minyak atsiri ini, sebenarnya berawal saat saya teringat dan melihat penjual minyak atsiri (essential oil) dari nilam pada sebuah acara pameran. Lantas, terbitlah ide ini untuk membuat minyak atsiri dari daun cengkih. Terlebih, di desa saya banyak daun cengkih,” katanya.

Dengan menggandeng salah seorang temannya, hingga mendapat modal awal sekitar 80 juta yang kemudian digunakan untuk membeli fasilitas penyulingan pertama. Tepat hampir setahun dari hasil penyulingan itu, modal yang dikeluarkan sudah kembali. “Begitu saya mengandeng salah satu teman dan mendapat modal 80 juta, sekitar hampir setahun melalui pengolahan penyulingan. Alhamdulillah modal sudah kembali,” tutur pria yang kini telah memiliki empat unit pabrik penyulingan minyak atsiri daun cengkih tersebut.

Dari usahanya yang kian membesar itu, omzet tiap bulan yang dia peroleh mencapai Rp 700 juta rupiah. Untuk mendongkrak bisnis usahanya itu, ia pun mendirikan CV dan diberi nama Kendal Agro Atsiri. Dalam mengoperasikan usaha penyulingan, dirinya memberdayakan setidaknya 400 pekerja warga sekitar sebagai pengumpul daun cengkih.

“Ada 400 orang, sebagai pengumpul daun-daun cengkih. Pengumpulan daun ini ditampung di 35 pengepul yang tersebar di sepuluh desa. Alhamdulillah taraf hidup warga meningkat. Ibu-ibu, yang sehari-hari biasa bekerja sebagai buruh tani dan pabrik, bisa mendongkrak penghasilannya hingga Rp 1 juta per bulan,” ungkapnya.

Dikatakan, pemasaran minyak atsiri yang dikelolanya itu tidak hanya di pasar lokal saja. Namun, kini sudah menjangkau hingga sejumlah negara di Eropa, seperti Swiss dan Jerman. Dari Benua Biru itu, Khafidz menerima permintaan minyak asiri mencapai lima ton per bulan. “Permintaan juga datang dari produsen obat dan kosmetik di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia. Seiring derasnya permintaan, selain asiri cengkih, saya juga mengembangkan produk minyak atsiri dari kulit pala, nilam, bunga mawar dan melati. Maklum, harga minyak asiri cukup tinggi,” jelas Khafidz.

Diungkapkan, harga minyak dari daun cengkih saat ini mencapai Rp 100.000 per Kg. Minyak atsiri dari nilam mencapai Rp 400.000 per Kg, sedangkan minyak  atsiri dari kulit pala seharga Rp 600.000 per Kg. “Dari semua minyak atsiri, untuk atsiri mawar dan melati terbilang paling mahal. Sebab harganya tembus puluhan hingga seratusan juta rupiah tiap kilogramnya,” ungkapnya.

Tak heran melihat dari usahanya itu, Khafidz bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 2 Milliar tiap bulannya. Bahkan, tahun ini dirinya juga berencana akan menggenjot kapasitas produksinya hingga 36 ton per tahun.

Sementara itu, Bupati dr Mirna Annisa M.Si mengharap dengan adanya klaster minyak atsiri dari daun cengkih dan sere (lemon grass) tersebut. Produksi minyak atsiri bisa ditingkatkan, mengingat potensinya cukup besar. “Ekonomi masyarakat Kabupaten Kendal terutama warga Kendal wilayah atas bisa meningkat dengan adanya industri penyulingan minyak atsiri,” tandasnya. (Dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here