Untuk Cegah Radikalisme di Kampus, Inilah yang Dilakukan Undip

Rektor Undip Prof  Dr Yos Johan Utama didampingi Ketua Tim Antiradikalisme Undip Dr H Muh Adnan MA menyerahkan cenderamata kepada Staf Khusus Menristekdikti Dr Abdul Wahid Maktub   

 SIGIJATENG.ID, Semarang –  Untuk menolak paham dan gerakan radikalisme di kampus yang bertujuan untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), para dosen  Agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindhu, Budha) di Undip melakukan deklrasi, Jumat (19/7/2019)

Deklarasi tersebut merupakan bagian dari kegiatan workshop bagi Dosen Agama dengan tema “Pencegahan Paham Radikalisme Melalui Agama Universitas Diponegoro”.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Tim Antiradikalisme Undip (Timaru) dan Biro Akademik Kemahasiswaan dengan tujuan  untuk merumuskan sistem pembelajaran dan materi mata kuliah pendidikan agama yang mampu memperkuat nilai-nilai tolerenasi dan nasionalisme.

Workshop dibuka Rektor Universitas Diponegoro Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Budi Setiyono SSos MPol Admin PhD.

Sesi pertama dalam kegiatan ini adalah diskusi panel dengan narasumber Staf Khusus Menristekdikti Dr Abdul Wahid Maktub dan Ketua Tim Antiradikalisme Undip Dr Muhammad Adnan, MA.

Dalam ceramahnya Dr Abdul Wahid Maktub memberikan penekanan terhadap perlunya dosen Agama untuk melakukan update dan upgrade sistem dan materi pembelajaran sesuai dengan tantangan zaman yakni era disrupsi. Dosen agama selain harus memiliki modal juga harus mampu menjadi model sehingga mahasiswa memiliki antusiasme yang tinggi untuk mengikuti proses pembelajaran. Dengan kondisi yang demikian maka nilai-nlai agama yang inklusif dapat lebih mudah diterima dan dipraktikkan oleh mahasiswa.

Dr Muhammad Adnan MA yang mantan Ketua PWNU Jateng mengatakan, para dosen Agama perlu untuk memberikan pemahaman bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan, tentang tanggung jawab umat  beragama merawat keberagaman dan perbedaan.

“Menumbuhkan sikap dan perilaku yang lebih toleran, menghindari sikap dan perilaku menang sendiri dan menganggap diri sendiri paling benar, serta menumbuhkan sikap dan perilaku yang lebih moderat yang dijiwai semangat   beragama yang humanis dan semangat nasionalisme sebagai sebuah bangsa yang beradab,” tegas Adnan.

Sesi kedua merupakan perumusan materi mata kuliah agama yang menenkankan nilai-nilai toleransi, nasionalisme dan anti radikalisme yang perlu untuk diajarkan kepada mahasiswa.Di akhir kegiatan dilakukan deklarasi berupa penandatanganan kesepakatan gerakan anti radikalisme oleh seluruh dosen agama. (rizal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here