Tikus Serang 229 Hektar Padi, Diusir Pakai Burung Hantu atau Pengasapan?

Petani sedang berusaha menangkap tikus dengan pengasapan. (foto Santo/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Sragen – Seluas 229 hektar lahan padi di 6 Desa, Kecamatan Sambungmacan, Sragen diserang hama tikus. Untuk menekan kerugian petani lakukan grobyokan tikus. Serangan tikus ini dinilai meningkat dibanding tahun sebelumnya hanya 4 desa. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen menyarankan menggunakan burung hantu yang lebih alami dan efektif memberantas hama tikus.

Ketua KTNA Sragen Suratno menyampaikan pihaknya sudah menerima keluhan para petani akibat serangan tikus. Terutama di wilayah Sambungmacan. Dia menyampaikan jika dibiarkan, hama tikus akan merusak tanaman dan membuat petani merugi.

”Kemarin teman-teman petani di Sambungmacan juga sudah mulai bergerak, dengan mitra untuk pemberantasan hama,” katanya Jumat (19/7/2019).

Suratno menyerahkan pada petani soal cara memberantas hama tikus. Namun pihaknya menyarankan menggunakan cara alami seperti memanfaatkan burung hantu. ”Cara apapun ya silahkan, tapi pakai burung hantu juga baik, ramah lingkungan dan predator alaminya,” terangnya.

Dia mengatakan cara alami tidak akan merusak ekosistem dan lingkungan. Misalnya menggunakan pestisida berlebihan atau menggunakan bom. ”Saya mengusulkan model pemberantasan hama yang alami, perlu dicoba semacam itu. Kalau saya kira tidak mahal,” ujar dia.

Suratno belum melihat petani di Sragen menggunakan metode burung hantu untuk memberantas hama tikus. Namun layak dicoba dengan belajar ke petani dari kabupaten sekitar Sragen yang sudah mencoba dan berhasil.

Sementara itu, Kordinator penyuluh Pertanian Sambungmacan Marno menyampaikan pada Jumat ini dilakukan pemberantasan di Desa Gringging dengan luasan lahan 65 hektar. Dia menyampaikan serangan hama tikus ini meluas.

Soal metode untuk pemberantasan hama tikus, pihaknya berganti-ganti. Pada 2018 lalu menggunakan asap. Begitu tikus keluar langsung dipukul. Namun ada insiden yang melukai petani. Sedangkan ini menggunakan umpan dan racun untuk dimakan tikus. ”Kalau di sawah sementara ini dinilai belum ada laporan mengganggu ekosistem,” ujarnya.

Disinggung cara menggunakan burung hantu, pihaknya setuju dan akan diusulkan pada pemkab Sragen. Dia menjelaskan kemampuan alami burung hantu sangat membantu petani. ”Jadi jarak 500 meter itu burung hantu sudah bisa mendeteksi tikus, selain itu satu ekor bisa sampai 20 tikus karena yang dimakan hanya jeroannya. Kita hanya membuat rumah rumahannya,” terang Marno. (santo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here