Tari Bedhaya Sri Tumurun Pada Kirab Dewi Sri Karaton Amarta Bumi Pukau Pegiat Budaya Negara Luar

Sajian Tari Bedhaya Sri Tumurun yang menjadi proses ritual awal dalam acara kirab justru menarik perhatian para tamu undangan dan masyarakat. (Foto Dye/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Kendal – Bagi warga adat di wilayah Desa Margosari Kecamatan Limbangan maupun warga dari luar daerah yang memiliki keyakinan sama, di bulan besar menurut kalender Jawa saat ini atau bulan Dzulhijah menurut kalender Islam hampir setiap tahunnya melaksanakan tradisi budaya yakni dengan menggelar kirab seperti yang dilakukan Kamis (15/8/2019) malam.

Acara kirab tersebut digelar Karaton Kawitan Amarta Bumi yang berada di Kampoeng Djawa Sekatul Limbangan Kendal. Ratusan warga adat, bahkan raja-raja se-nusantara pun turut serta meramaikan gelaran kirab Dewi Sri sebagai wujud syukur dan bentuk ucapan terima kasih mereka kepada Dewi Sri simbol dari dewi padi.

Raja Karaton Amarta Bumi, Sri Anglung Prabu Punto Djojonagoro mengatakan kirab Dewi Sri tahun 2019 ini selain diikuti masyarakat adat juga di hadiri para pegiat budaya dan seni dari Tiongkok. Sajian Tari Bedhaya Sri Tumurun yang menjadi proses ritual awal dalam acara kirab justru menarik perhatian mereka.

“Banyak para pegiat budaya dari Tiongkok yang jauh-jauh datang kesini dan terkesan akan budaya Indonesia. Sehingga mereka bisa hadir mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan Kirab Dewi Sri beberapa hari sebelum dilaksanakan,” kata dia.

Dalam kirab tersebut sejumlah orang memandu Dewi Sri yang diperankan oleh Kanjeng Raden Ayu Dinar Retno Djenoli istri dari Sri Anglung Prabu Punto Djojonagoro. Dewi Sri ditandu oleh empat orang dari joglo Pakuwon menuju joglo Saridin yang berjarak sekitar 100 meter.

“Kirab Dewi Sri ini ada dua gunungan yang diarak oleh sejumlah prajurit karaton terdiri atas padi laki-laki dan padi perempuan, serta gunungan beragam hasil bumi. Padi laki-laki dan padi perempuan tersebut merupakan lambang dari kemakmuran,” terang Sri Anglung Prabu Punto Djojonagoro.

Begitu sampai di Saridin, prosesi ritual kirab Dewi Sri dimulai dengan tarian empat penjuru arah mata angin. Prosesi ritual dilakukan dengan khidmat dan diiringi tembang- temban Jawa yang merupakan cara untuk mengundang Dewi Sri.

“Proses ritual diawali dengan Tari Bedhaya Sri Tumurun dalam tradisi kirab ini rutin kami selenggarakan setiap tahun di bulan besar menurut kalender Jawa atau Dzulhijjah menurut kalender Islam,” bebernya.

Dia menambahkan, kirab Dewi Sri ini merupakan tradisi adi luhung peninggalan leluhur yang sudah punah dan perlu kembali lestarikan. “Dari kirab itu bisa membuat suara tenteram, damai, dan menjadi keyakinan tamu yang hadir bahwa kirab bisa membawa berkah bagi semua,” imbuh Sri Anglung.

Sementara itu, Ketua panitia kegiatan Wangsit berharap, kegiatan kirab ini, selain melestarikan budaya bisa membuat hasil bumi di Keraton Kawitan Amarta Bumi selalu melimpah. (Dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here