Sunan Kuning Ditutup, Pak Wandi Minta Tempat Karaoke Tidak Ditutup

Suasana komplek lokalisasi Sunan Kuning pada siang hari.


SIGIJATENG.ID
, Semarang – Rencana Pemkot Semarang menutup  Lokalisasi Sunan Kuning Semarang pada pertengahan Agustus 2019 menuai pro kontra. Ada yang medukung dan ada yang keberatan.

Ketua Resosialisasi Argorejo, Suwandi Eko Putro, menyampaikan pandangan keberatannya terhadap rencana Pemerintah Kota Semarang menutup resos yang kerap disapa Sunan Kuning.


“Banyak orang dari kalangan menengah ke bawah yang menggantungkan hidupnya di sini, seperti dengan membuka usaha-usaha tempat karaoke, laundry maupun jasa warung kelontong,” katanya Suwandi.
Menurut dia terdapat hingga 10 ribu orang yang bekerja di sana. Dia mengatakan tidak semua orang disini bekerja di bidang prostitusi saja.

“Kalau mau jujur ya, ada sekitar 10 ribu orang yang mencari nafkah di sini sampai detik ini. Ada dari pedagang makanan keliling, tukang kredit, penjual minuman sampai jasa-jasa lainnya. Itu diluar 479 orang yang melayani jasa karaoke maupun prostitusi,” kata Suwandi.

Suwandi menerangkan, selama ini kegiatan usaha yang berjalan lokalisasi yang dikenal dengan resos Argorejo ini selalu berjalan secara kondusif. Dia menyatakan omset yang dihasilkan setiap rumah karaoke dalam semalam bisa mencapai Rp. 5 juta.

“Jika dihitung secara keseluruhan, penghasilan yang didapat dari bisnis karaoke selama sebulan bisa menembus angka Rp 1 miliar. Ia bilang uang jumlah pendapatan itu bisa naik berlipat ganda saat momen tertentu,” paparnya.

Oleh karena itu, Suwandi meminta Pemerintah Kota Semarang agar tidak menutup 177 rumah karaoke yang berada di dalam komplek resos Argorejo.

Suwandi menilai, penutupan rumah karaoke juga pasti berdampak pada banyak orang yang mencari nafkah dari situ.  

“Saya minta supaya tempat karaokenya tetap dibiarkan, kita kan hanya menyepakati kalau mbak-mbaknya yang melakukan bisnis prostitusi dipulangkan saja,” kata Suwandi.

Meski demikian, Suwandi tetap meminta Pemerintah Kota Semarang supaya jumlah yang saku yang diberikan bisa ditambah lagi. Ia merasa uang Rp 5,5 juta kurang mencukupi kebutuhan hidup di kampung halaman. 

“Uang sakunya Rp 5,5 juta kalau bisa dicarikan tambahan lagi biar bisa hidup kedepannya. Kalau biasanya hanya tidur siang, ya diupayakan biar dia bisa buka usaha yang baru,” pungkas dia. (rizal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here