Staf Ahli PUPR: Peran dan Dukungan Masyarakat Dibutuhkan dalam Penataan Lingkungan

Staf Ahli Kementerian PUPR Sudirman saat pengecekan Kali Pepe, Solo. (Foto Santo/Sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Solo – Langkah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya terus dilakukan. Hanya saja, upaya itu harus ada dukungan peran serta masyarakat setempat. Lantaran penataan dan pengembangan suatu wilayah tanpa ada peran serta masyarakat tidak ada artinya. Sejumlah pembangunan di kabupaten/kota yang mendapatkan dukungan dari masyarakat yang merasa melu handarbeni (ikut memiliki) akan terjaga dengan baik.

Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Kementerian PUPR, Sudirman mengatakan, rasa memiliki dan menjaga harus tertanam di kehidupan masyarakat. Seperti penataan Kali Pepe, Solo, dibawah kepemimpinan Walikota Hadi Rudyatmo dinilai cukup baik karena mendapat dukungan dan keikutsertaan masyarakatnya.

“Penataan disejumlah kawasan itu diharapkan bisa dinikmati publik, dengan nyaman, tenang dan aman,’’ tutur Sudirman saat di Ngasem, Solo, (13/8/2019).

Begitu juga Bupati Semarang Mundjirin yang getol membenahi serta menata lingkungan kawasan Rawa Pening akan berhasil, jika didukung masyarakat setempat.  “Kini Rawa Pening akan dikembangkan sebagai obyek wisata berskala nasional yang bisa menangguk pendapatan PAD,” ungkap Sudirman.

Penataan kawasan sungai, rawa maupun danau, amat bergantung pada komitmen serta peran masyarakat.  Dia juga memberikan contoh Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam menata kawasan lingkungan Kalimas Surabaya yang dulu dikenal kumuh, berhasil karena adanya peran masyarakat. Lantas komunitas masyarakat didukung pemkot juga ikut mengelola bank sampah.

“Penataan kawasan Kalimas mendapat dukungan luas masyarakat, sehingga yang awalnya kumuh sekarang terjaga dengan baik,’’ tutur Sudirman, Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Kementerian PUPR ini.

Sudirman mengungkapkan, beberapa kali mengikuti seminar Hight Level Seminar (HLS) on Enviromentally Sustainable Cities (ESC) di Jepang dan sejumlah Negara ASEAN itu, bahwa kegiatan penataan lingkungan merupakan platform pembahasan di bidang permasalahan perkotaan. Berbicara tentang fasilitas public di perkotaan, Sudirman mengingatkan agar asesibel bagi semua, termasuk penyandang disabilitas.

Sementara kembali soal penataan kota, Solo memiliki Taman Pelangi di kawasan Taman Satwa Taru Jurug Solo. Namun masih ada kawasan Bengawan Solo Jurug (dekat Jembatan Jurug) yang sudah dibuat Tanggul (Parapet), kelak bisa dikembangkan dan dimanfaatkan lagi sebagai Taman Lingkungan serta lokasi jogging track seperti di area wisata Kalimas Surabaya. Sebab masyarakat membutuhan Taman Lingkungan yang memiliki fungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan yang bersifat rekreatif dan edukatif.

Peran serta masyarakat juga bisa ‘’menjual’’ obyek lingkungan yang bersih itu untuk menarik pengunjung.  Karena hal itu bukan mustahil jika di kemudian hari kawasan menjadi ramai diikuti dengan tumbuhnya berbagai usaha bisnis, seperti restoran. Melalui pola kerjasama dengan BBWSBS, Pemkot bisa bekerjasama mengembangkan kawasan yang mulai tumbuh itu.

“Peran serta masyarakat yang diharapkan adalah ikut menjaga lingkungan aman dan nyaman serta menjaga kebersihan. Jangan ada lagi perilaku membuang sampah secara sembarangan baik dilingkungannya maupun di sungai,’’ pesan Sudirman, Mantan Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2015-2018). (santo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here