Sri Setijawati, Korban Pembunuhan di Kendal adalah Guru Bahasa Jawa

Keadaan Rumah yang tertulis di KTP Sri Setijawati, yang kosong. ( foto dian/sigijateng.id )

SIGIJATENG.ID, Semarang –  Sosok Sri Setijawati (48 tahun), korban pembunuhan yang diduga dilakukan oleh Ashar (31) yang hingga Jumat (22/2/2019) pagi ini jenasahnya belum ditemukan, tergolong sosok yang miterius. Karena tidak banyak yang tahu jatidirinya, namun dia tergolong sosok orang yang ramah.

Berdasarkan identitas di KTP yang berhasil diamakan polisi, Sri Setijawati tinggal di alamat Jalan Kelinci RT 06 RW 03  Pandaen Lamper  Gayamsari Semarang. Dia lahir tahun 1971 dan tertulis bekerja sebagai guru.

Namun saat wartawan Sigijateng.id datang ke rumah itu, Kamis (21/2/2019) sore, ternyata rumah itu kosong tanpa penghuni. Menurut informasi, rumah itu memang sudah lama kosong. Rumah itu adalah rumah orang tuannya. Sri Setijawati adalah seorang janda dan sebetulnya sudah lama tidak tinggal di rumah itu.

Peristiwa meninggalnya Sri juga membuat kaget keluarganya. Seorang lelaki Imam Sujari, mengaku salah satu anggota keluarga, mengatakan kejadian itu benar-benar mengejutkan keluarga. Apalagi kejadiannya begitu tragis dan sampai saat ini jenasahnya belum ditemukan.

“Ya, pasti kaget mas. Soalnya orangnya baik”, ujarnya singkat kepada Sigijateng.id, saat ditemui di kediamannya, Kamis (21/2/2019).

Pihak keluarga, lanjutnya, saat ini menunggu kabar dari kepolisian terkait pencarian jasad korban yang masih terus dilakukan.

“Semua keluarga sudah tau, Kita menunggu kabar dari Polres Kendal untuk selanjutnya bisa dimakamkan”, imbuhnya.

Ditanya soal alamat yang tertera di KTP Sri, Imam menjelaskan bahwa alamat tersebut merupakan rumah orangtuanya.

Sementara, dari keterangan warga sekitar, Sri dulu tinggal bersama orangtuanya di rumah tersebut. Ia sudah menjanda dan sempat 5 tahun di Papua. Beberapa bulan lalu Sri pulang ke Semarang namun tidak tinggal di rumah itu.

Salah satu warga, Fahrudin mengatakan korban saat tinggal di sana termasuk warga yang ramah. Meski demikian memang tidak ada yang mengetahui kehidupan pribadinya.

“Ya biasa, ramah. Sudah lama tidak tinggal di sini. Keluarganya termasuk yang terlama di daerah sini,” kata Fahrudin kepada wartawan

Kerabat korban yang enggan disebutkan namanya juga mengakui kalau korban tertutup. Keluarga mengetahui jika korban bekerja sebagai guru bahasa Jawa, namun tidak mengetahui menjadi guru di mana.

“Memang tertutup, guru di mana tidak tahu, beneran ini. Tapi ramah sama keluarga,” ujar kerabat yang tinggal tidak jauh dari rumah korban.

Untuk diketahui, pembunuhan Sri Setijawati terbongkar setelah pelaku, Ashar (31) menyerahkan diri ke Polsek Genuk. Menurut pengakuan tersangka, pembunuhan terjadi di tempat tinggalnya di Perumahan Witjitraland Langenharjo Kendal hari Rabu (13/2) lalu.

Saat itu korban datang untuk menagih utang. Namun kemudian terjadi cekcok dan pelaku emosi. Pelaku yang emosi menusukkan gunting ke leher korban hingga tewas.

Jasad korban sempat disimpan di rumah kosong di sebelah rumah pelaku. Kemudian hari Jumat (15/2), pelaku membuang korban di sungai Kalibodri Kendal.

Pelaku kemudian pulang ke rumah keluarganya di Genuk, Kota Semarang. Setelah diarahkan pihak keluarga, ia menyerahkan diri ke Polsek Genuk pada hari Minggu (17/2) lalu. Sementara itu hingga kini pencarian jenazah korban masih terus dilakukan. (dian/dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here