Sejumlah Waduk Sragen Mengering, Ini Yang Dilakukan Petani

Kondisi air Waduk Ketro Tanon yang menyusut. (foto santo/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Sragen – Kondisi lima dari tujuh waduk Di Sragen sudah mengering. Kondisi ini menjadi ancaman untuk ribuan hektar lahan pertanian. Saat ini sebagian besar petani hanya mengandalkan air sumur dalam.Informasi yang dihimpun, Kamis, (5/9/2019), saat musim kemarau ini lima waduk dan 41 embung di Kabupaten Sragen sudah kehabisan air. Kondisi ini berdampakpada lahan pertanian di wilayah yang mengandalkan irigasi.

Kabid Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sragen, Supardi menyampaikan dari tujuh waduk yang ada di Sragen, lima waduk sudah dalam kondisi kering. Sementara dua waduk lainnya hanya tinggal menyisakan debit antara 4 hingga 6 persen.

“Lima waduk yang sudah dalam kondisi kering yakni Waduk Botok, Waduk Gembong dan Waduk Kembangan di Kecamatan Karangmalang, Waduk Gebyar di Kecamatan Sambirejo, dan Waduk Brambang di Kecamatan Kedawung,” kata Supardi.

Sedangkan Waduk Ketro di Kecamatan Tanon, tinggal menyimpan debit air sebanyak 449.800 meter kubik, atau setara dengan 6 persen dari daya tampung. Sedangkan Waduk Blimbing di Kecamatan Sambirejo, kini tinggal menyimpan 21.914 meter kubik air, atau sekitar 4 persen dari daya tampung waduk.

”Seluruh waduk di Sragen memang tipikalnya hanya sebagai tampungan aliran-aliran sungai. Ketika musim kemarau tiba, tidak ada lagi pasokan air dari sungai. Sehingga debit waduk akan mengering. Waduk Botok salah satu yang pertama kering sejak bulan Juli,” beber Supardi.

Kondisi yang sama juga terjadi pada puluhan embung yang tersebar di seluruh wilayah Sragen. Dari total 42 embung yang ada, hampir seluruhnya dalam kondisi kering. Saat ini yang masih terisi hanya Embung Kedungpring di Kecamatan Tangen.

Keringnya waduk ini tentu saja mengganggu pasokan air untuk pertanian. Berdasarkan data Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sragen, jumlah lahan yang tak lagi mendapatkan pasokan air akibat keringnya waduk, luasnya mencapai 6.116 hektare.

Menaggapi kekurangan air untuk pertanian, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Ekarini Mumpuni Titi Lestari berharap kondisi tersebut tidak sampai memicu kegagalan panen. Dia menjelaskan musim kemarau ini datang hampir bersamaan dengan masa panen Musim Tanam (MT) 2. Sehingga banyak warga yang masih bisa bertahan dengan mengandalkan pasokan air dari pompa.

”Tidak sampai puso. Hanya saja memasuki MT ketiga ini, banyak petani yang lebih memilih untuk menganggurkan lahannya, untuk menghindari kerugian akibat gagal panen,” terangnya. Eka menyampaikan petani lebih bijak dalam menentukan pilihan tanaman. Pada kondisi kemarau  ini pihaknya melalui petugas penyuluh lapangan (PPL), memberikan sosialisasi kepada petani agar menanam palawija di lahannya. (santo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here