Perpustakaan Nasional Perluas Jangkauannya hingga Tingkat Desa, Ini Yang Dilakukan

Peserta berfoto bersama peraturan  (mushonifin/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Semarang – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengadakan peer lerning tingkat provinsi di Jawa Tengah pada Selasa-Jumat tanggal 5-8 November 2019 di hotel edge Semarang.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando mengatakan, Perpustakaan telah diputuskan sebagai urusan wajib non pelayanan dasar sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan dan juga Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah sebagai tindak lanjut Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah.

“Untuk menyediakan layanan perpustakaan yang sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta kebutuhan masyarakat. Atas dasar hal tersebut di atas maka perpustakaan nasional sebagai Pembina semua jenis perpustakaan dengan dukungan dari Bappenas berinisiatif untuk melakukan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Kegiatan ini memiliki tujuan memperkuat peran perpustakaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui peningkatan kemampuan literasi yang meningkatkan kreativitas masyarakat dan mengurangi kemiskinan akses informasi,” ujar syarif Bando dalam sambutannya. 

Syarif Bando menambahkan, program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial juga harus menjangkau kepada masyarakat di pedesaan dalam rangka mendekatkan masyarakat terhadap akses informasi yang berkualitas dan mengurangi kesenjangan dengan penduduk perkotaan serta mengurangi angka urbanisasi.

 Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando sedang memberi sambutan  (mushonifin/sigijateng.id)

“Para hadirin yang berbahagia Perluasan transformasi perpustakaan ke tingkat Desa juga merupakan upaya memperluas program dan mendekatkan akses informasi kepada masyarakat untuk memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” lanjutnya. 

“Perpusnas mengajak semua pihak bahwa sejatinya ilmu pengetahuan akan abadi jika disampaikan. Semakin banyak yang memanfaatkan, maka akan timbul kreativitas ataupun inovasi baru yang membawa pengetahuan baru dan kesejahteraan, dan begitu seterusnya”, jelas Syarif Bando di akhir sambutan. 

Selain itu, perpustakaan diharapkan menjadi pusat bagi masyarakat untuk berkegiatan dan terkoneksi satu dengan yang lain sehingga terjadi proses belajar yang mendorong kesempatan untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas yang positif dan produktif diantara masyarakat itu sendiri.  

Prijo Anggoro Budi Rahardjo, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah mengatakan, tujuan dari pelaksanaan Peer Learning Meeting ini adalah; pertama, memfasilitasi proses saling belajar dan berbagi pengalaman antar perpustakaan. Kedua, emotivasi dan membangun kepercayaan diri peserta untuk terus melaksanakan rencana kerja transformasi perpustakaan kabupaten maupun desa. Ketiga, emperkuat proses mentoring dan monitoring perpustakaan kabupaten dan desa. Keempat, erbagi pengetahuan untuk kesejahteraan.

“Maka dari itu mari kita bersama-sama ke depan menjadikan perpustakaan tidak hanya menjadi tempat informasi membaca buku namun menjadi ruang terbuka bagi masyarakat berbagi pengetahuan, pengalaman dan berlatih ketram-pilan hidup untuk meningkatkan kesejahteraan”, ujar Prijo.

Prijo berharap dengan hal terebut dapat mewujudkan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang berkelanjutan sebagai bagian dari usaha bersama membangun daerah dan masyarakat yang berdaya saing. 

“Semoga usaha kita untuk meningkatkan taraf literasi masyarakat bisa membuahkan hasil maksimal”, harapnya diakhir sambutan. (Mushonifin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here