Penurunan Muka Tanah Jadi Ancaman Serius Warga Pesisir Kota Semarang

SIGIJATENG.ID, Semarang – Penurunan muka tanah imbas perubahan iklim global menjadi ancaman serius bagi warga kawasan pesisir di Indonesia salah satunya adalah Kota Semarang. Data yang dirilis Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), permukaan air laut di beberapa kawasan pesisir akan naik 25 hingga 50 cm pada tahun 2050 dan 2100.

Sementara itu, Pakar tata kota asal Universitas Dianuswantoro (Undip), Bambang Setyoko mengatakan, beberapa kawasan di sepanjang pantai utara Kota Semarang diakuinya memang mengalami land settlement alias penurunan muka tanah. 

Menurutnya, penyebab amblesnya beberapa kawasan di Kota Semarang itu antara lain karena menjamurnya bangunan-bangunan, seperti hotel, mall, shoping center. 

“Penyebab lainnya adalah pengambilan air tanah yang tidak terkendali. Hal itu menyebabkan air yang ada di dalam tanah kosong,” jelasnya, Jumat (26/07/19).

Penurunan tanah tiap tahunnya, di antaranya di wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Bandarharjo, Johar, Kemijen dan Boom Lama.

Daerah-daerah tersebut dulunya merupakan roda perekonomian yang ada di Kota Semarang. Namun, keadaan tanah yang tidak stabil membuat banyak investor pikir ulang.

Efeknya, banyak investor yang cenderung memilih investasi di kawasan Kendal, Mranggen, Mijen dan juga Gunung Pati. 

“Kan bisa dilihat banya PT besar seperti PT Kubata pindah di daerah Mijen. Hal itu disebabkan kawasan Semarang sudah tidak layak untuk dijadikan tempat berbisnis,” tegasnya.

Sampai saat ini, Bambang belum bisa mengukur berepa dalam tanah yang mengalami land settlement setiap tahunnya. Hal itu disebabkan perbedaan struktur tanah yang ada di masing-masing kawasan. (Taufiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here