Paru-paru Basah Masih Tinggi, Handayani Berikan Edukasi dengan Kurubani

Kegiatan sosialisasi Kurubani di salah satu Posyandu Ngadirgo di wilayah Kecamatan Mijen, Semarang.

SIGIJATENG.ID, Semarang – Masih tingginya angka balita penderita Pneumonia (paru paru basah) di kawasan Mijen membuat Handayani bergerak memunculkan inovasi untuk bagaimana mengurangi angka balita penderita Pneumonia. Dengan inovasi yang dinamakan “Kunjungan rumah balita pneumoni” (Kurubani) dirinya berharap angka balita penderita pneumonia bisa menurun bahkan, bebas dari pneumonia.

Handayani mengatakan, latar belakang inovasinya tersebut berawal dari angka penderita pneumonia yang tinggi selama lima tahun terakhir di wilayahnya. Dimana secara global, Di tahun 2013, 2014, 2015, 2016, 2017, penyakit pneumoni masuk dalam 10 daftar penyakit teratas di Puskesmas Mijen.

“Walau dari 5 tahun terakhir ini  mengalami penurunan. Tapi kasus balita penderita pneumonia masih tinggi. Bahkan di 2014 angkanya mencapai 447 kasus. Harapannya dengan Kurubani ini, di 2019, balita penderita pneumonia bisa berkurang, bahkan nihil,” ujar Bidan di Puskesmas Mijen itu saat ditemui, Jumat (29/3/2019).

Ditanya soal Kurubani itu sendiri, Handayani menerangkan, Kurubani merupakan kunjungan terhadap balita penderita pneumonia yang tidak melakukan kunjungan kembali ke Puskesmas. Sehingga dengan kunjungan tersebut, memberikan kesadaran terhadap Ibu dan keluarga balita yang terkena Pneumoni untuk kembali melakukan pengecekan kesehatan bayinya ke Puskesmas.

“Setelah saya mengunjungi beberapa rumah balita penderita pneumonia, ternyata memang kondisi untuk anak memang kurang bersahabat dengan anak. Seperti pencahayaan yang kurang, ventilasi yang kurang, udara yang tercemar dengan dekatnya kandang, anggota keluarga yang merokok. Itu semua adalah beberapa resiko sebab pneumonia pada anak,” imbuhnya.

Dengan kunjungan itu juga, pihaknya bisa memberikan masukan dan arahan untuk mempersiapkan lingkungan yang bersahabat dan menyehatkan untuk tumbuh kembang anak. Selain mengunjungi langsung rumah balita penderita pneumonia, dirinya juga kerap memberikan sosialisasi tentang pneumonia dan bagaimana melakukan pencegahannya.

“Karena masih banyak juga masyarakat khususnya Ibu Balita yang kurang memahami pneumonia. Dengan Kurubani, kita juga sosialisasikan apa itu pneumoni kepada Ibu balita. Dan jika mendapati anak mengalami gejala Pneumoni, batuk disertai nafas cepat. Ibu balita bisa langsung membawanya ke Puskesmas. Untuk segera mendapatkan penanganan,” tukasnya. (dian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here