Muhammadiyah Haramkan Nikah Misyar, Apa Sebabnya?

Muswil Muhammadiyah di Sragen. (foto santo/ sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Sragen – Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyatakan soal nikah misyar haram. Fatwa itu disampaikan dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-5 di Sragen, Minggu (3/11/2019).

Dalam pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen, diputuskan terkait hukum Nikah Misyar yang haram. 
Nikah Misyar merupakan nikah yang digelar pada pihak lelaki tidak punya kewajiban untuk menafkahi istri secara lahir. Namun tidak mempermasalahkan jika hanya memberikan nafkah batin. Praktik ini banyak terjadi di negara timur tengah.

Ketua MTT PWM Jateng Imron Rosyadi menyampaikan nikah misyar di beberapa negara timur tengah adalah hal umum. Tetapi tidak menutup kemungkinan di Indonesia juga ada. Menurutnya disepakati bahwa hukum Nikah Misyar haram.

Pihaknya mempertimbangkan sejumlah hal karena ada perbedaan pendapat dari para ulama. ”Para ulama berbeda pendapat ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan haram. Tapi kami para peserta memilih hukum yang haram karena ada pertimbangan,” terangnya.

Opsi haram dipilih karena berpotensi mentelantarkan perempuan dan anak. Status anak menjadi tidak jelas saat suami meninggalkan begitu saja hubungan pernikahan itu. Lantas kalau istri dan anak hendak menuntut pihak suami, tidak memiliki pijakan hukum.

Misal mau ke polisi, tentu akan ditanya kejelasan status keluarganya. Pengadilan juga akan meminta bukti suami-istri. Misal terjadi perceraian, pengadilan tidak mau menyelesaikan itu. Kami  melihat Banyak mengandung mudarat daripada kemaslahatan,” terangnya.

Pihaknya menegaskan di Indonesia akses pencatatan sangat penting. lantas nikah Misyar sulit untuk dilakukan pencatatan. Bagi pihak istri dan Anak, mau mengajukan akta lahir juga tidak bisa. ”Apalagi anak semakin besar, mempertimbangkan psikologisnya. Mencegah kedzoliman yang menimpa anak dan istri,” terangnya.

Setelah diskusi cukup panjang, dan dirumuskan ada dua kelompok yang setuju tanpa syarat, ada yang setuju dengan Syarat. Dia menyampaikan setelah kesepakatan ini,  hasil akan dikirim ke ketua PWM Jateng dan disebarkan ke warga Muhammadiyah.(santo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here