Menikmati Lezatnya Pisang Plenet, Bernostalgia dengan Jajanan Khas Kota Semarang

 Subandi saat menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat jajanan khas Semarangan, Pisang Plenet

SIGIJATENG.ID, Semarang – Seorang pria paruhbaya tampak asik membolak balikkan beberapa potong pisang di atas tungku panggangannya. Hanya butuh waktu sekitar satu menit saja, satu persatu buah pisang yang telah berubah warna menjadi coklat kehitaman diangkatnya. 

Pada tiap-tiap biji ditelakkan di plastik bening segi empat memanjang. Pria itu pun mengambil dua buah papan berbentuk segi empat kecil dan kemudian menjepitkan pisang itu dengan 1 atau 2 kali tekanan.

“Iki jenenge Pisang Plenet. Gawene diplenet-plenet, dipenyet (Ini namanya Pisang Plenet, Cara buatnya dengan dipenyet),” katanya, Senin (08/07/19).

Adalah Subandi (62) pemilik usaha Pisang Plenet warisan kakeknya. Subandi pun bercerita, jajanan berbahan dasar pisang kepok tersebut sudah ada sejak 1950-an. Menurutnya, kala itu, sang kakek menjadi perintis pertama, merasa bosan dengan camilan tempo dulu yang hanya seputar singkong atau ubi rebus maupun goreng.

Lantas sang kakek mencoba untuk mengkreasikan pisang dengan cara dibakar dan diplenet hingga pipih dengan memasukkan isian gula, selai nanas dan mentega. Kreasinya pun sempat populer pada zaman tersebut. Bisnis jajanan tradisional tersebut nampaknya turun temurun. 

Pada generasi kedua usaha pisang plenet dimotori oleh kakaknya. Kala itu, sebut Subandi, pisang plenet diperjual belikan hingga 12 titik di Kota Semarang. Lambat tahun seiring meninggalnya para pedagang yang juga nagian dari keluarga besarnya, Subandi pun mengambil inisiatif untuk ikut serta meneruskan usaha tersebut.

Pada tahun 1975, pria kelahiran 1956 tersebut mempunyai sedikit modal untuk memulai bisnis pisang plenet. Bersama kakaknya yang saat ini masih jualan, Subandi dengan dukungan sang istri mulai terjun ke Jalan Pemuda agar bisa dikenal oleh masyarakat.

“Awet biyen yo isine koyo kui. Ora tak ubah-ubah ninggali jaman semono. La tak kai coklat go pantes-pentes ben rodo koyo wong saiki, biyen yo rak ono. (Dari dulu resepnya ya seperti itu. Tidak saya ubah, sesuai resep waktu itu. Jika saya kasih coklat, itu hanya buat variasi saja biar seperti orang sekarang. Karena dulu kan tidak ada),” kata Subandi.

Setiap harinya, Subandi biasa mangkal di Jalan Pemuda dari pukul 14.00 – 24.00 WIB. Terkadang ia berangkat lebih sore dan pulang lebih awal mengingat kondisi kesehatan dan ramai sepinya pembeli.
Dalam sehari, Subandi biasanya mampu menjualkan pisangnya hingga 8 hingga 12 sisir. Tiap satu sisir pisang berisikan 12 hingga 14 buah.

Kini, Subandi ingin terus meneruskan bisnis warisan darisang kakek selagi masih sehat. Ia juga sudah mengajak anak dan ponakannya untuk ikut serta menjajakan pisang plenet di Semarang.

Tercatat total 5 tempat pisang plenet dijajakkan. Satu titik di jalan Gajah Mada, 2  titik di Semawis Pecinan, dan 2 titik di Jalan Pemuda.

“Pisang plenet onone mung ning Semarang. Sekeluarga sing dodolan. Saiki gerek limo, maune rolas (Pisang Plenet adanya hanya di Semarang. Sekeluarga yang jualan. Sekarang tinggal lima, dulunya duabelas),” pungkasnya. (Taufiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here