Ajarkan Cara Hidup Bermasyarakat, Mbah Maimoen Juga Mendapat Tempat di Hati Non Muslim

Pembacaan tahlil pada 40 hari wafatknya KH Maimoen Zubair di Hotel Candi Semarang, Jumat (13/9/2019)

SIGIJATENG.ID, Semarang – KH Maimoen Zubair semasa hidupnya sangat dihormati dan berpengaruh bagi semua orang. Dia tidak hanya menjadi ulama milik PPP dan NU saja. Mbah Moen tidak hanya mendapat tempat di kalangan warga muslim di Indonesia, namun juga mendapat tempat di hati  warga non muslim.

Demikian dikatakan Ketua DPW PPP Jateng Masruhan Samsurie, disela-sela acara pembacaan tahlil mengenag 40 hari meninggalnya Mbah Maimoen di Hotel Candi Semarang, Jumat (13/9/2019) malam. Pembacaan tahlil tersebut diikuti oleh sekitar seratusan orang, baik dari kalangan pengurus DPW PPP Jateng juga masyarakat umum.

Masruhan Samsuri, Ketua DPW PPP Jawa Tengah. ( foto ist/sigijateng.id)

“Semakin jelas bahwa KH Maimoen Zubair adalah sosok ulama besar yang menembus batas primordial,” kata Masruhan.

Menurut Masruhan, memang wajar kalau banyak orang, termasuk dari kelompok non muslim sangat menghormati Mbah Maimoen. Karena Mbah Moen tidak hanya mengajarkan tatacara beribadah untuk umat Islam saja, namun juga telah mengajarkan cara hidup bermasyarakat.

“Beliau telah mengajarkan cara-cara  bagaimana hidup rukun dalam satu negara Indonesia,” terang politisi yang sekarang juga mejabat sebagai ketua Fraksi PPP DPRD Jateng ini.

Dikatakan Masruhan, hampir di setiap kesempatan Mbah Moen menekankan akan pentingnya menjadi warga negara yang baik dengan berpegang pada dasar negara. Karena itu, dia juga sangat dihormati oleh penganut agama non Islam juga.

“Saya berpendapat bahwa beliau bisa kita sebut sebagai ulama sekaligus negarawan,” terangnya.

Diceritakan Masruhan, pernah suatu ketika seorang politisi dari Jakarta datang ke Sarang Rembang menghadap Mbah Moen. Kesan si politisi tersebut  dalam perjalanan pulang menyatakan bahwa dirinya mendapat informasi yang orisinil tentang wawasan kebangsaan. Dan pemikiran tersebut sepertinya tidak pernah didengar dari para pakar pada umumnya. Pengakuan seorang politisi yang lingkungan pergaulannya jauh dari ulama dan pesantren tersebut bisa dimaklumi, karena Mbah Moen banyak memberikan informasi tentang perjuangan para ulama NU dalam mewujudkan kemerdekaan RI dan dalam membangun faksafat dan dasar negara.

“Saya yakin pemikiran Mbah Moen tentang wawasan kebangsaan dan kenegaraan akan terus menginspirasi, tidak saja untuk kalangan santri justru lebih-lebih untuk kalangan lain yang jauh dari lingkaran santri,” pungkas Masruhan Samsurie.  (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here