Kumpul Jurnalis Alumni UIN Walisongo, Rektor Prof Imam Taufik Diminta Bikin Kartu Free Parkir

Rektor UIN Walisong Prof. Dr Imam Taufik berfoto bersama dengan jurnalias alumni UIN, Jumat (9/8/2019). ( foto humas UINWS/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Semarang –Rektor UIN Walisongo, Prof Dr Imam Taufik terus bergerak demi kemajian UIN Walisongo sebagaiman yang diinginkannya. Salah satu hal yang dilakukan yakni melakukan Gathering Jurnalis alumni IAN/UIN Walisongo yang kini aktif di bagai media media, baik cetak, TV, Cyiber/online dan TV, Jumat (9/8/2019). Hal ini sepertinya belum pernah dilakukan rector-rektor sebelumnya.

Belum semua jurnalilas alumni UIN Walisongo diundang dalam kesempatan ini. Gathering Jurnalias kali ini yang diundang adalah mereka yang berdomisili di Kota Semarang. Namun yang bisa hadir hanya sekitar 50 persen dari jumlah jurnalis yang tinggal di Kota Atlas ini.

“Terima kasih kepada teman-teman jurnalis semua. Hari ini kita bisa bertemu, bisa bersilaturahim. Berkenalan secara langsung. Semoga kita bisa bersama-sama membesarkan almamater kita yakni, UIN Walisongo. Keberadaan media, ikut menentukan kemajuan UIN Walisongo, dan juga membawa citra kampus,” kata Prof Imam Taufik mengawali pembicaraan.

Rektor UIN Walisongo Prof Dr Imam Taufik (tengah).

Pada kesempatan itu, rektor muda kelahiran Jombang Jawa Timur ini didampingi beberapa dosen muda seperti Rikza Chamami, Misbah, Abdullah ibnu Tolhah, Nazarudin. Serta Abdul Hakim (Kepala Bagian Kerjasama, Kelembagaan dan Humas/Kabag KKH),  Astri Amanti, Aci (Kepala Sub Bagian Humas) dan tim humas UIN Walisongo.

Adapun dari jurnalis yang hadir diantaranya Agus Fathudin (Suara Merdeka), Ida Nurlaela (Jawa Pos Radar Semarang), Aris Syaefudin (Sigijateng.id), Handoko (Kompas TV), Edi Faisol (Tempo/Serat.id), Andik Sismanto (Zonapasar.com), Sigit (Koran Lingkar Jateng), M Nur Huda (Tribun Jateng),  Dwi Royanto (Viva), Hidayat (Radio Elsinta), Ahsan Fauzi ( Metrotimesnews.com), Udin (tv kampus), Shodiqin (Wawasan), Abdul Mughis (jatengtoday), dan lain-lain.

Wartawan senior Suara Merdaka Agus Fathuddin berharap, silaturahmi seperti ini harus berlanjut. Kelanjutanya tidak harus terus bertemu langsung secara fisik seperti ini, namun yang terpenting adalah bagaimana berita-berita UIN Walsongo bisa menghiasi media-media yang ada.  Tentu dengan berita-berita yang positif. “Setidaknya tim humas harus aktif dan kreatif bikin release-release. Banyak materi yang bisa diekspose, tidak harus release terkait kegiatan di kampus, namun juga release komentar, pandangan pemikiran terkait dengan momentum yang sedang terjadi baik di regelonal maupun nasional,” terangnya.

Wartawan Radio Elsinta Hidayat mengatakan, selama ini medianya sudah sering bekerjasama dengan UIN Walisongo. Dan harapannya ini terus  berlanjut. “Permohonan saya, ponsel dan WA Pak Rektor aktif 24 jam. Jadi sewaktu-waktu kami menghubungi untuk jadi nara sumber bisa. Mungkin juga para pejabat  teras lainnya juga on 24 jam,” pintanya.

Sedang wartawa Viva Dwi Royanto memberi masukan agar UIN Walisongo memberikan kartu khusus kepada jurnalias alumni UIN Walisongo agar ketika masuk lingkungan kampus UIN tidak bayar parkir. Karena selama ini, masuk lingkungan kampus UIN, yang tidak punya kartu parkir harus bayar parkir. “Ini cukup memberakan juga sih, kalau nanti sering masuk kampus UIN. Apalagi, selama ini saya juga stand by-nya di kantin kampus II. Sepertinya saya memang benar-benar cinta UIN,” terang wartawan yang juga baru saja diterima sebagai PNS guru agama SDN di Ngaliyan ini.

Aris Syaefudin wartawan Sigijateng menyampaikan, agar kampus UIN Walisongo juga berbenah juga dalam fasilitas kampus, utamnya kamar mandi. Ini mungkin hal sepele, namun bisa mempengaruhi citra kampus. Jadikan citra, bahwa kampus UIN Walisongo adalah kampus yang bersih tidak kotor, kampus yang tidak kesulitan air. “Sudah dua tahun saya tidak datang ke UIN. Tahun 2017 lalu saya masih melihat kamar mandinya pada kotor. Dua minggu lalu saya baca di facebook masih ada keluhan dari alumni, kalau kamar mandi UIN masih kotor,” kata Aris Syaefudin.

Adanya banyak seperti itu, Imam Taufik menyatakan terima kasih. Dan pihaknya segera akan memetakan mana hal hal yang akan segera dilakukan. Khusus parkir berbayar, awalnya adalah karena keprihatinan adanya beberapa kali kejadian kendaraan hilang di kampus. Itu kebijakan lama, yang saat itu dirinya jadi PR II. Tujuannya untuk menekan agar tidak ada pencurian.

“Namun sepertinya parkir berbayar dampaknya tidak bagus. Saat lebaran dan puasa, masjid menjadi sepi pengunjung, mungkin masyarakat keberatan bayar parkir. Hal ini akan kita tinjau ulang,” terangnya. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here