Kasus Politik Uang Menonjol di Pemilu 2019, Tapi Sulit Ditindaklanjuti, Inilah Penyebabnya

Anggota Bawaslu M. Rofiudin saat menyampaikan paparan ) pada “Rapat Koordinasi Dengan Mitra, Kerja Laporan Pertanggungjawaban Kinerja Bawaslu kepada Publik” di Hotel Patra Semarang, Selasa (27/8). (foto aris/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Semarang – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Jawa Tengah menemukan kasus yang menonjol di Pemilu 2019 lalu, yakni politik uang. Tetapi hal itu sulit ditindaklanjuti secara hukum karena kesulitan saksi.

Hal ini dikatakan Koordinator Divisi Humas dan Hubungan antar-Lembaga Bawaslu Jawa Tengah (Jateng), M. Rofiudin pada “Rapat Koordinasi Dengan Mitra, Kerja Laporan Pertanggungjawaban Kinerja Bawaslu kepada Publik” di Hotel Patra Semarang, Selasa (27/8/2019).

Acara yang dibuka Ketua Bawaslu Jateng, Fajar Saka diikuti puluhan mitra kerja seperti akademisi, organisasi kemasyarakatan, LSM, dan jurnalis.

“Kasus politik uang bisa dicegah bila masyarakat dan elit politik memiliki komitmen bersamat, terutama dari elit politik selaku pemberi uang,” ujar kata Rofiudin.

Rofiudin juga mengatakan, selama gelaran Pemilu 2019 di Jawa Tengah ada sebanyak 12 orang pengawas meninggal dunia dan 133 mengalami luka saat bertugas. Penyebab meninggalnya anggota pengawas karan kelelahan setelah menjalankan tugas pengawasan seharian di tempat pemungutan suara (TPS) kemudian sakit atau kecelakaan lalu lintas.

“Ada seorang anggota pengawas perempuan sedang hamil mengalami kecelakaan sehingga luka-luka. Jumlah pengawas yang luka 133 orang, dengan perincian satu luka cukup berat, 30 luka berat, dan 102 luka ringan dan sedang,” terangnya.

Berdasakan data Bawaslu Jateng, anggota pengawas yang meninggal dunia antara lain, Abdul Ghofur (anggota Panwascam Brebes), Susmiati (pengawas TPS 11 Kendal Sari Kecamatan Petarukan, Pemalang), Yudi Cahyanto (pengawas TPS Desa Mipiran Kecamatan Padamara, Purbalingga).

Muchtarom (pengawas TPS 8 Desa Kalisemo Kecamatan Loano Purworejo), Nurhadi (Pengawas Pemilu Desa/PPD Desa Megulung Lor, Kecamatan Pituruh, Purworejo).

Suroso H.S (panitia pengawas pemilihan desa, Desa Wirongan, Kecamatn Gatak, Sukoharjo), Syukron Ma’mun (petugas TPS 14 Desa Harjawinangun Kecamapatan Balapulang Kabupaten Tegal), Abdul Rohman (petugas TPS 24 Desa Blubuk Kecamatan Dukuhwaru, Kebupaten Tegal), Agung Nugroho petugas TPS 21 Karangasem, Solo).

Muhammad Amin Ansori (petugas TPS 2 Desa Brumbung, Kecamatan Jepon Kabupaten Blora), dan Ngalimun, petugas TPS Desa Jemben Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.

Lebih lanjut Rofiudin, menyatakan pada pemilu serentak 2019, pihaknya telah  menyelesaikan 27 permohonan sengketa.Sementara, Koordinator Divisi Pengawasan Bawaslu Jateng, Anik Sholihatin, menyatakan dalam pengawasan pemilu serentak 2019 sudah bekerja secara maksimal. (aris) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here