Kampung Pelangi Semarang; Dulu Kampung Kumuh, Kini Jadi Warna-Warni

Suasana Kampung Pelangi Semarang dari atas bukit (sigijateng.id/mushonifin)

SIGIJATENG.ID, Semarang – Pada tanggal 2 Mei 2017 lalu, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi meresmikan kampung Wonosari (disebut juga Kampung Berintik) RW 3 dan 4 Kelurahan Randusari Semarang Selatan sebagai Kampung Pelangi. Sebelumnya, pada 14 April 2017 lurah, camat, RT, RW dan warga bergabung untuk mengecat kampung ini.

Selamet Widodo, Ketua Kelompok Desa Wisata (POKDAWIS) mengatakan, dahulu sungai yang ada di belakang pasar bunga itu belum ditata serapi seperti sekarang. Jadi antara pasar bunga, sungai, kemudian dengan kampung yang ada terlihat kumuh.

 “Ketika Pemkot merevitalisasi pasar bunga, pasar bunga kan ketika dilihat dari depan (jalan raya) cantik dan indah, tapi di sisi lain kampung kami jadi kumuh. Mengapa? Kekumuhan itu bukan karena lingkungan yang kotor, tetapi rumah-rumah yang ada di lereng bukit Berintik ini kalo di lihat dari jalan raya tampak kumuh karena belum dicat, belum ditembok, dan lain sebagainya,” terang pria yang sering dipanggil Ndan Selawi ini.

Kemudian Selamet Widodo menyampaikan kepada Pemkot, jika revitalisasi pasar bunga berjalan, dia meminta kampung Wonosari dicat untuk mendukung keindahan pasar bunga. Akhirnya, pemkot merespon dengan membuat program revitalisasi kampung Wonosari menjadi kampung tematik warna-warni yang belakangan disebut Kampung Pelangi. “Pak Hendilah (Walikota Hendrar Prihadi) orang yang pertama kali menyebut kampung pelangi saat peresmian,” katanya.

Selamet Widodo menjelaskan, Pemkot bermusyawarah dengan pihak kelurahan, RT dan RW, kemudian pihak Pemkot berupaya untuk membantu pengecatan. Pemkot sendiri waktu itu tidak menganggarkan di APBD.

 “Akhirnya pemkot menunjuk Dinas Tata Ruang (DISTARU) dengan menggunakan CSR yang dihimpun oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Pengusaha Indonesia (GAPENSI) Kota Semarang. CSRnya kurang lebih antara Rp 300-400 juta,” terang pria yang juga menjabat sebagai ketua RT 4 RW 3 ini.

 Jumlah Wisatawan Fluktiatif

 Untuk pengunjung sendiri, di tahun 2017 bagus, tahun 2018 menurun, tahun 2019 makin menurun. Dengan melihat angka jumlah pengunjung yang menurun, sehingga harus ada upaya lebih dalam meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung.

“Secara riil, setiap harinya pasti ada wisatawan yang berkunjung ke sini, bahkan wisatawan asing masih sering berkunjung kesini. Salah stau kelemahan kami adalah pada sistem pengelolaan wisata sendiri, kendala utamanya adalah kurangnya inisiatif warga untuk mengembangkan kampung ini,” kata Salemat Widodo coba menjelaskan.

Pemkot sudah memberi pelatihan kepada warga untuk membuat kerajinan, kuliner, dan pengelolaan lingkungan. Tujuan utama pemkot mengubah kampung ini menjadi kampung pelangi yang utama adalah untuk meningkatkan taraf hidup, lalu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kampung Wonosari tidak kumuh seperti dulu lagi, tapi sudah menjadi destinasi wisata di Kota Semarang. Dan harapan terbentuknya kampung pelangi adalah untuk mengubah karakter warga yang cinta kebersihan dan keindahan.

 “Awalnya itu Wonosari tidak akan dicat, tapi dijadikan kampung tematik penyangga pasar bunga. Tapi berikutnya, karena ada perkembangan dan lain sebagainya akhirnya dirubah setelah dikaji ulang, akhirnya dijadikan kampung tematik untuk destinasi wisata. Dulu kampung ini tidak terkenal, jarang orang luar yang mengunjungi kampung ini kecuali ada saudara atau mahasiswa-mahasiswa yang mendampingi anak-anak belajar,” lanjutnya.

Kali pertama, jumlah rumah yang dicat hanya sekitar 230-an saja, seiring waktu berjalan wisatawan dengan sukarela memberi sumbangan baik berupa uang maupun cat, akhirnya sebanyak 480-an rumah bisa dicat lagi.

Keunggulan Kampung Pelangi

Keunggulan kampung pelangi ini adalah letak geografisnya yang di perbukitan sekaligus ada di tengah kota, Dari sini pemandangannya indah ke arah kota.

“Kampung ini memiliki keunggulan alami, yaitu letak geografis yang memungkinkan kita memandang ke setiap sudut kota dan keindahan pasar bunga,” terang  Selamet Widodo.

 Jika tidak ada halangan, bulan Oktober atau November ini akan digelar festival kampung pelangi. Acara ini dipandegani oleh Badan Pemberdayaan Sosial dan Pemberdayaan (POSDAYA) masyarakat dari mahasiswa UNDIP yang magang di sini.

 “Kegiatan-kegiatannya di antaranya lomba mural tingkat SMA/SMK/MA se Kota Semarang, lomba mancing, lomba fotografi, lomba blog, dan lomba kuliner”, lanjutnya.

 Dan jika nanti dari PSDA merevitalisasi sungai kembali, rencananya sungai Berintik akan dijadikan destinasi wisata air.

 Kekurangan Kampung Pelangi

 Krisyanto, sekretaris POKDAWIS mengatakan, kekurangan di kampung ini salah satunya MCK, jalan-jalan yang masih sempit, akses keluar dan masuk yang belum ditata, kemudian akses air. Terkhusus untuk air, harus ada upaya lebih karena posisi kampung yang di atas bukit.

 “Kami sudah mengajukan ke Pemkot dan sekarang sedang diproses. Semoga pengajuan kami bisa ditindaklanjuti. Jika tak ada halangan kami akan diberi tendon besar oleh pemkot,” terang Krisyanto.

 “Sebagai kampung wisata, infrastruktur di sini juga masih kurang karena tidak ada tempat bermain, infrastruktur jalan juga beum memadai,” lanjutnya.

 Krisyanto yang juga ketua RT7 RW3 berharap, dengan adanya Kampung Pelangi ini bisa membangkitkan kesadaran masyarakat untuk menata kampungnya sendiri. Di samping itu, perlu ada pendampingan soal pemasaran kerajinan warga.

 “Sebenarnya warga sudah dilatih untuk membuat kerajinan ataupun kuliner, tapi pemasaranya sangat kurang. Jadi kami berharap agar pemerintah lebih memperhatikan lagi faktor pemasaran ini agar produk-produk dari masyarakat tidak mubadzir”, pungkas Krisyanto. (Mushonifin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here