Jangan Terlambat ! Deteksi Kanker Serviks dan Payudara Sejak Usia Muda

kanker serviks cukup tinggi diindonesia. ( foto google.com)

SIGIJATENG.ID, Semarang- Kaum wanita dianjurkan untuk melakukan deteksi dini terhadap penyakit kanker, seperti kanker serviks, kanker payu dara dan lain-lain. Upaya ini dinilai sangat penting untuk menghindari keterlambatan dalam hal penanganan.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr Felicia Sugiarto SpOG mengemukakan, wanita yang menginjak usia sembilan tahun dianjurkan untuk melakukan vaksin kanker serviks. Penyakit yang disebabkan human papilloma virus (HPV) ini tidak muncul secara tiba-tiba.

“Kanker serviks biasanya terjadi dalam jangka waktu lama antara 10 hingga 15 tahun. Pada fase awal, kanker serviks umumnya tidak disertai dengan gejala. Karena itu, seseorang yang terjangkit penyakit ini sering kali tidak menyadari,” kata dr Felicia Sugiarto SpOG, usai diskusi kesehatan yang diselenggarakan RS Telogorejo Semarang di rumah sakit setempat Sabtu (9/2/2019).

Begitu mendapat vaksin HPV, kata dia, seorang perempuan tetap dianjurkan menjalani pemeriksaan pap smear. Tes ini dilakukan secara berkala dan dimulai sejak tiga tahun setelah melakukan aktivitas seksual.

“Penularan virus HPV sebagian besar atau 85 persen melalui hubungan senggama. Tapi fakta lain mengungkapkan virus itu bisa ditularkan lewat handuk atau barang pribadi sejenisnya,” katanya.

Faktor risiko kanker serviks bermacam-macam. Beberapa di antaranya karena hubungan seksual, kebiasaan merokok, sistem imun yang menurun hingga berganti-ganti pasangan seksual.

Sementara itu, Dokter Spesialis Patologi Anatomi, dr Susanto Winarko SpPA mengatakan kanker payudara juga bahaya bagi wnaita. Tanda yang biasa muncul diantaranya bengkak pada seluruh atau sebagian payudara. Kemudian payudara terasa nyeri, kulit iritasi dan keluar cairan atau darah dari ujung payudara.

“Kanker payudara umumnya menyerang wanita usia di atas 50 tahun. Seiring perkembangannya, penyakit ini menimpa wanita usia 30-40 tahun,” terang dr Susanto Winarko SpPA nya.

Hanya saja, kata dia, sekarang banyak kasus terjadi di mana usia pasien berumur 30-an tahun. Seringkali orang berobat ke dokter terlambat atau dalam kondisi yang sudah stadium lanjut.

Dijelaskan pula, ada sejumlah faktor risiko kanker payudara yang bisa diubah atau yang disebut faktor gaya hidup. Faktor ini antara lain kebiasaan merokok, minum alkohol, obesitas dan kurang aktivitas fisik. “Sedangkan yang tidak bisa diubah misalnya faktor keturunan dan usia. Kunci sebetulnya deteksi sedini mungkin, makin awal makin baik dan harapan hidupnya juga makin besar,” terangnya. (rizal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here