Inspiratif, Sambil Loper Koran Mahasiswa FEBI UIN Walisongo Asal Demak Raih IPK 3,90

Nashrur Rohim mahasiswa FEBI UIN Walisongo sukses meaih nilai cumlaude. ( foto ist/sigijateng.id)


SIGIJATENG.ID
, Semarang – Mencari mahasiswa yang sambil bekerja mungkin sudah cukup banyak. Namun kalau kuliah nyambi bekerja dan mendapatkan nilai IPK sangat memuaskan mungkin tidak banyak.

Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Dr KH Imam Taufiq saat memberikan keterangan kepada wartawan setelah acara wisuda. ( foto ist/sigijateng.id)

Dan salah satu mahasiswa itu adalah  Nashrur Rohim, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Islam UIN Walisongo yang diwisuda, Rabu (28/8/2019.Berstatus anak yatim, mahasiswa  asal Demak ini mejalani kuliah di FEBI UIN Walisongo sambil bekerja menjadi loper koran. Adapun Indeks Pretasi Kumulatif (IPK) yang berhasil diraih yakni 39,0 (aliasn cumlaude).

Di wisuda FEBI periode Agustus ini, Nashrur memperoleh penghargaan sebagai Wisudawan Paling Inspiratif. Selain itu, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,90, ia tercatat masuk dalam 15 wisudawan dengan IPK tertinggi paralel FEBI.

Nashrur lahir di Demak pada 11 Desember 1997. Hidup dengan ibu serta keempat saudaranya yang telah menikah, ayahnya telah meninggal dunia, Nashrur ingin berusaha membiayai kebutuhannya sendiri. Biaya kuliah sudah dibantu oleh saudara-saudaranya, namun demikian tidak ingin menggantungkan semua kebutuhan hidup kepada keluarganya. Ia pun memilih untuk kuliah sambil bekerja menjadi loper koran di salah satu media massa di Semarang.

“Motivasinya pasti untuk memenuhi kebutuhan, pasti itu pertama. Terus saya pikir panjang loper Koran itu pekerjaannya tidak terlalu berat. Kerjanya hanya beberapa jam,” jelasnya.

Mahasiswa jurusan D3 Perbankan Syariah ini menjadi loper koran sejak 2016 dengan gaji berkisar Rp 600 ribuan. Setiap harinya, mulai pukul 05.00 – 06.30 ia berkeliling mengantar koran ke berbagai kelurahan di Semarang. Biasanya ia mengantar koran ke daerah Wonodri, MT. Haryono, Barito, Jl. Majapahit, Jl. Soekarno Hatta dan di Kelurahan Penggaron.  Karena banyak langganan yang harus dikirim, kalau ada jadwal kuliah pagi sering telat masuk.

 “Pernah pas (telat) yakni di semester awal yang kuliahnya jam 06.10 atau nggak yang jam 07.00,” terangnya.

Namun mendekati akhir kuliahnya, ia memutuskan untuk berhenti menjadi loper koran untuk fokus mengerjakan Tugas Akhirnya. Ditanya selepas lulus, dia  mengatakan tidak akan muluk-muluk. Ia menilai apapun pekerjaannya nanti asalkan dia bisa produktif.

“Yang pasti harus produktif. Soalnya buat Ibu juga, Ibu sama aku soalnya,” kata Nashrur.

Selain sibuk kuliah dan bekerja, ia ternyata juga mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Komunitas Bisnis (KOBI). Berbagai kesibukannya itu telah membuatnya belajar tentang kerja keras dan manajemen waktu. Ia pun berpesan kepada teman-temannya untuk memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan yang ada.

“Saya berharap kepada teman-teman supaya manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan jangan sampai mengecewakan orang tua. Barangkali ada yang nasibnya lebih buruk dari saya, tekadnya harus lebih dibulatkan untuk menggapai cita-cita,” ucap Nasrul.

Rektor UIN Walisongo  Prof Dr Imam Taufiq menyatakan, apa yang yang telah diukir  Nashrur adalah buah dari ketekunan dan kedisiplinan yang dilakukan selama ini.  Dia bisa menjalani kuliah dengn bekerja, namun juga sama-sama meraih hasil memuaskan. “Man Jadda wa Jadda. Siapa yang sungguh-sungguh akan mendaparkan yang diinginkan. Alhamdulillah. Dia bisa meraih pretasi membanggakan,” kata UIN Walisongo.

Imam berharap, apa yang telah dilakukan dan prestasi yang diraih Nashrur bisa menjadi inspirasi mahasiswa lain. “ Hidup dalam keterbatasan tidak akan menjadi penghalan akan meraih kesuksesan, jika ada kemauan dan telad yang kuat,” kata Imam. (Aris)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here