Inilah Sejarah Masjid Jin di Dekat Makam Ma’la Mekah Yang Perlu Anda Ketahui

Pembimbing umroh PT Mastour Travel Semarang Ustadz Ersyad Qomar dan Ustadz Sofiyan Hadi LC Ssaat berkunjung ke Masjid Jin di dekat makam Ma’la Mekah bersama jemaah dan jurnalis sigijateng.id, Selasa (22/10/2019).

SIGIJATENG.ID –  Kota Mekah, Arab Saudi, selain memiliki Masjidil Haram, ternyata tanah suci tersebut juga memiliki banyak masjid bersejarah yang selalu dikunjungi jemaah haji. Salah satunya yaitu Masjid Jin atau Al Jin.

Masjid ini berada di utara Masjidil Haram yakni di kampung Ma’la dan tidak jauh dari pemakaman kaum muslim, Pemakaman Ma’la adalah yang di dalamnya terdapat makam istri pertama Nabi Muammad yakni Siti Khodijah dan ulama’ kharismatik asal Rembang KH Maimoen Zubair, yang wafat saat musim haji 2019 lalu. Jarak dari Masjidil Haram hanya sektar 1 KM.

Tampak menjulang tinggi Masjid Syajarah saat ini.

Masjid Al-Jin sering juga dikenal dengan nama Masjid al-Bai’ah. Masjid yang berada 1,5 km di sebelah utara Masjidil Haram ini memiliki luas sekitar 20×10 meter. Bangunan masjid yang bertingkat dua ini didominasi warna abu abu. Kaligrafi (seni tulisan Arab) yang mengutip Alquran, Surat Jin (ayat 1-9) menghiasi kubah masjid.

Lantas, mengapa dinamakan Masjid Al-Jin atau Al-Bai’ah?. Ustadz Sofiyan Hadi, LC, salah satu pembimbing ibadah umroh PT Mas’ayaril Haram Tour and Travel (Mastour Travel) mengatakan, ada kisah yang terjadi di tahun kesepuluh kenabian Rasulullah. Saat itu beliau Nabi Muhammad bersama para sahabat yang hendak pulang dari Thaif melaksanakan salat Subuh di tempat itu. Dalam kesempatan itu, Rasulullah melantunkan ayat-ayat Alquran Surat Ar-Rahman yang diperdengarkan kepada para sahabat.

“Diriwayatkan,  pada saat itu serombongan Jin yang sedang menuju Tihamah, terpukau dari makna Surat Ar-Rahman tersebut. Lalu, para Jin itu pun menyatakan keislamannya dan berbaiat kepada Rasulullah,” kata pengasuh Pesantren Entrepreneur AlMawaddah Kudus ini kepada Sigijateng,id, saat bersama-sama berkunjung ke masjid ini, Selasa (22/10/2019).

Sejumlah riwayat mengungkapkan, bahwa para Jin yang berbaiat kepada Rasulullah berjumlah sembilan. Namun, ada juga yang menyebutkan tujuh Jin. Para jin itu berasal dari daerah yang berada di antara Suriah dan Iraq, Nasibain.

Peristiwa ini diabadikan dalam Alquran, Surat Al-Ahqaf, ayat 29 hingga 32:

“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan Jin kepadamu yang mendengarkan Alquran. Maka tatkala  mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: Diamlah kamu untuk mendengarkannya. Ketika pembacaan selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan,” (29).

“Mereka berkata: Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus,” (30).

“Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih,” (31).

“Dan orang-orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata,” (32).

Dari kisah sejarah yang tersimpan itu, Masjid Al Jin saat ini menjadi salah satu lokasi yang kerap didatangi para peziarah yang sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah di tanah suci Mekah. Bahkan, mereka terkadang menyempatkan untuk menunaikan salat fardu di masjid itu. 

Tidak jauh dari Masjid Jin, berjarak sekitra 50 meter sebelum Masjid Jin kalau dari Masjidil Haram, terdapat Masjid al-Shajarah. 

Pembimbing ibadah umroh Mastour Travel Usadz Ersyad Qomar mengatakan, ada beberapa riwayat bahwa Nabi (SAWA) merasa sedih ketika orang-orang Mekah menolak panggilannya untuk Islam. Dia berdoa: “Ya Allah! Tunjukkan pada saya tanda seperti itu dan setelah itu saya tidak akan peduli dengan penolakan orang-orang. ”Dia kemudian diperintahkan untuk memanggil pohon terdekat yang merobek tanah ke arahnya, mempersembahkan salam dan kembali ketika diperintahkan untuk melakukannya. Nabi (saw) kemudian berkata, “Saya sekarang tidak peduli dengan penolakan orang-orang.” Demikian kta Rosul Muhammada,” kata Ustadz Ersyad.

Masjid ini telah disebutkan oleh al-Azraqi dalam Kitab Akhbar Makkah wa ma Ja’a fiha min al-Athar dan Ibn al-Diya al-Makki al-Hanafi di Tarikh Makkah al-Musharrafah wa al-Masjid al-Haram wa al- Madinah al-Sharifah wa al-Qabr al-Sharif. Masjid ini direnovasi pada 1421 H. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here