Inilah ‘Dua Cewek Mastour’ Yang Sukses Sujud Syukur di Gua Hira

Syarifah Ula (Godong Purwodad), Elok Tri Novianingrum (Pekalongan), dua cewek muda jemaah umroh PT Mastour Travel, yang sukses masuk Gua Hira di Jabal Nur, Mekah, 22 Oktober 2019. ( foto aris syaefudin/sigijateng.id)

SIGIJATENG,ID. Mekkah – Lahir dan berkembangnya Islam tidak lepas dari Gua Hira di Jabal Nur Mekkah. Di tempat yang sangat sepi dan tersembunyi ini, Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertama, yakni Alquran Surat Al Alaq ayat 1 – 5.

Jemaah umroh Biro Haji dan Umroh PT Masyaril Haram Tour and Travel (Mastour Travel) Indonesia berkesempatan berziarah ke Gua Hira, Selasa (22/10/2019) sore. Rombongan berangkat dari hotel pukul 16.00 waktu setempat.  Ada 18 orang yang berangkat menuju Jabal Nur. Namun tingginya Jabal Nur, serta cuaca yang cukup panas,  dari 18 orang itu yang berani naik ke puncak Jabal Nur hanya tujuh orang.

Ustadz Ersyad Komar (kiri) bersama Aris Syaefudin, wartawa Sigijateng.id

Yakni  Syarifah Ula (Godong Purwodad), Elok Tri Novianingrum (Pekalongan), Gampang Sastro (Blora) Kadari Nimin (Kendal), serta pembimbing ibadah Ustadz Ersyad Qomar dari Kudus, wartawan Sigijateng Aris Syaefudin dan pemandu (mutowif) Ustadz Salim, mukimin dari Pati yang sudah lebih 10 tahan berada di Mekkah. Sementara 11 jemaah lainnya memilih menunggu di kaki Jabal Nur, tempat terakhir berhentinya mobil taksi..

Dari tujuh orang itu, dua orang diantaranya adalah perempuan, yakni Syarifah Ula dan Elok Tri dan berstatus singgel. Syarifah tercatat alumni Undip Semarang sedangkan Elok Tri tercatat sebagai Mahasiswi Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Jemaah Umroh PT MAstour Travel saat berada di kaki Jabal Nur Mekkah.

Rombongan sengaja datang pada sore hari. Selain cuaca sudah relative tidak panas, juga agar bisa melihat matahari terbenam dari atas Jabal Nur atau Gunung Cahaya  itu. Suasana Kota Mekkah pada malam hari, yang terdisinari lampu listrik juga terlihat indah. Jam besar di Hotel Grand Zam zam di depan Masjidil Haram terlihat jelas dari pincak Jabal Nur. Suasana petang itu  juga sangat ramai.

“Saya tertantang untuk ikut naik Jabal Nur. Baru kali ini saya naik gunung,” kata Syarifal Ula.

Tertantang, kata Syarifah, bukan lah untuk syok-syokan. Namun sebagai upaya untuk bisa menambah kecintaannya kepada Rasul Muhammad. Dengan napak tilas ke Gua Hira, maka dirinya bisa membayangkan betapa luar biasanya Rasul Muhammad. Betapa beratnya perjuangan Nabi Muhammad dalam membawa risalah kenabian dari Allah.  

Suasana Kota Mekkah terlihat di atas Jabal Nur, tampak jam di atas hotel Grand Zam-zam di depan Masjidil Haram.

“Nabi Muhmmad luar biasa. Betapa sulit dan beratnya menuju Gua Hira. Saya yakin, kondisi jalan menuju Gua Hira sekarang dengan dulu tentu sangat beda. Dulu tentu lebih sulit,” katanya.

Elok Tri Novianingrum menambahkan, saat melihat pertama kali tingginya Jabal Nur dan kemiringan gunung juga sempat ciut nyali untuk naik. Namun dengan niat napak tilas tempat-tempat bersejarahnya Rasul Muhammad, diapun ikut naik ke Gua Hira itu.

“Kami sempat sujud syukur di Gua Hira itu. Bersyukur, karena Allah telah memberikan kesempatan itu hadir di sini, melihat langsung kondisi Gua Hira, tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama,” katanya.

Ustadz Ersyad menjelaskan, napak tilas ke Gua Hira memang tidak menjadi syarat, rukun atau wajib dalam ibadah haji dan umroh. Namun juga tidak masalah jika jemaah haji dan umroh sengaja datang berziarah ke Gua Hira.

Jemaah umroh saat berada di depan Gua Hira Jabal Nur, sedang menunggu untuk bisa masuk ke dalam Gua Hira untuk bersujud syukur.

“Dengan datang dan melihat langsung Gua Hira, maka akan bisa mempertambal keimanan dan kecintaan kita kepada Rasul Muhammad. Juga semakin mempertebal keimanan kita kepada Alquran. Karena di Gua Hira ini, Allah menurunkan Surat Pertama Alquran,” kata Ersyad Qomar.

Sementara, berdasarkan informasi yang didapat Sigijateng, jarak antara Gua Hira dengan Kakbah di Masjidil Haram, apabila ditarik garis lurus, yakni 5,24 Km. Dari pusat kota Mekah perjalanan darat dengan kendaraan ke kampung terdekat sebelum naik ke bukit Jabal Nur cukup memakan waktu tak kurang dari 20 menit. Perjuangan baru terasa saat selepas turun dari mobil karena harus menapaki bukit batu terjal.


Untuk menuju Gua Hira, telah dibuatkan anak tangga yang menghubungkan kampung terakhir dengan puncak Jabal Nur. Meskipun sudah ada anak tangga, bagi Anda yang tak terbiasa dengan kegiatan fisik, harus pintar-pintar mengatur strategi. Jangan langsung memforsir fisik dengan terus naik ke atas. Lebih baik luangkan waktu sejenak tiap beberapa puluh langkah untuk beristirahat. Ada beberapa tempat istirahat berbentuk gazebo di lintasan pendakian.

Pendakian Gua Hira umumnya memakan waktu satu jama, tergantung pada kemampuan fisik dan banyaknya frekuensi istirahat. Bila Anda merupakan seorang yang terbiasa dengan kegiatan fisik terutama pendakian, waktu tempuh bisa jauh dipangkas.


Sebaiknya Anda membawa senter atau paling tidak memaksimalkan fasilitas flash light pada kamera ponsel Anda. Dari bawah sampai ke puncak Jabal Nur, tidak ada satu pun lampu penerangan.

Selama perjalanan ke atas, di kiri kanan jalur pendakian ada peminta-minta yang aktif menyapa Anda. Mulai dari sapaan sopan sampai terang-terangan meminta nominal.

Begitu sampai di puncak Jabal Nur, Anda harus bergerak sedikit ke bawah lagi di sisi bukit setelahnya. Gua Hira terletak tak jauh di punggung Jabal Nur sebelah atas yang berada di arah pusat Kota Mekah.

Setelah naik dan turun bukit, tantangan belum selesai. Tantangan terakhir ini adalah celah sempit dan lorong yang harus dilewati untuk dapat masuk ke Gua Hira. Pengunjung harus menekuk/memiringkan badan sedemikian rupa untuk dapat melewati celah dan lorong ini.

Usai melewati celah sempit itu, maka sampailah kita di Gua Hira. Bentuk gua ini terbilang kecil. Panjang gua sekitar tiga meter dengan lebar sekitar satu setengah meter dengan ketinggian sekitar dua meter. Gua ini hanya cukup digunakan untuk salat dua orang.
Saat kami tiba di sana pada Selasa petang, ada puluhan orang yang masih di atas. Sebagian antri berjubel di depan gua, lainnya menunaikan sholat Magrib di pincak Jabal Nur, yang memang agak lapang dan datar.

Meski terkesan tak terurus, tetap banyak peziarah yang datang ke Gua Hira. Mereka ingin napak tilas ke tempat di mana Rasulullah mendapatkan wahyu pertama yakni Surat Al Alaq ayat 1 sampai 5. (Aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here