Inilah Cerita Unik Dibalik Rambut Kuncirnya Bambang Eko Purnomo Anggota DPRD Jateng

H Bambang Eko Purnomo (paling kiri) dengan penampilan sederhan, saat cek lapangan yang akan menerima bantuan dari Pemprov Jateng saat reses di Desa Sidomoro Kecamatan Buluspesantren Kebumen, Selasa (26/2/2019) sore.

SEIGIJATENG.ID, Kebumen – H Bambang Eko Purnomo sudah duduk sebagai anggota DPRD Jateng sejak tahun 2009 lalu. Itu artinya, dia sudah dua periode berkantor di Gedung Berlian di Jalan Pahlawan Kota Semarang.

Dan tahun 2019 ini, dia kembali maju sebagai caleg DPRD Jateng dari dapil yang sama dengan sebelumnya, yakni Kebumen, Purbalingga dan Banjarnegara.

Ada satu yang unik dan hanya dia sendiri yang memilikinya, diantara 100 orang anggota DPRD Jateng, yakni berambut kuncir.

Ya,  bapak dua anak yang biasa disapa Mas BEP ini memang rambut di bagian belakang dibiarkan memanjang. Karena itu pula dia juga biasa disapa Bambang Eko Kuncir.

“Sejak kecil saya memang seperti ini, memanjangkan rambut saya di bagian belakang. Hanya sekali saya memotongnya, yaitu saat tahallul ketika ibadah haji tahun 2012. Saat itu saya potong gundul. Setelah itu sampai sekarang saya biarkan memanjang lagi seperti ini,” kata Bambang Eko Purnomo dihadapan warga Desa Sidomoro, saat acara Reses, Jaring Aspirasi Masyarakat, Masa Sidang I Tahun 2019, anggota DPRD Jateng, Selasa (26/2/2019).,

Bambang Eko Punomo bersama angota Pemuda Pancasila Kabupaten Kebumen, Selasa malam (26/2/2019)

Diakui Bambang Eko Purnomo, rambut kuncirnya ini telah menjadi ikon dirinya. Dan dia nekat melakukan itu, karena menjalankan pesan kiainya/ gurunya, agar memanjangkan rambut dibagian belakang. “Saya ini sami’na wa’ atho’na akan dawuh guru. Dan saya kira pesannya ini juga tidak negative, tidak melanggar agama, tidak melanggar aturan, tidak mengganggu dan merugikan orang lain, ya saya lakukan saja,” terang Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Panasila Jawa Tengah periode 2017-2022 ini.

Diakui dia, penampilan rambut gondrongnya itu memang terkadang menimbulkan kesan negative, utamanya bagi orang-orang yang baru saja bertemu dengannya. Karena itu pula, istri dan anak-anaknya pernah meminta untuk memotong kuncirnya itu. Namun permintaan itu tidak dikabulkan. Apalagi, bagi BEP, penampilan rambut kuncirnya bukan menjadi penghalang dalam menjalan tugasnya sebagai anggota dewan ataupun organisasi di Pemuda Pancasila. Disisi lain juga tidak menyulitkan dirinya dalam bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan, dalam banyak kesempatan justru juga berdampak positif, orang akan mudah mengingatnya.

“Kalau sudah kenal saya, Insya Allah langsung hilang pikiran negative ke saya. Kalau tidak percaya, silahkan tanya sahabat saya, teman-teman saya, kepada orang-orang yang pernah bertemu dengan saya. Rambut kuncir saya ini juga membantu memudahkan orang lain mengingat saya,” ucap lelaki yang sudah jadi ketua RW selama 7 tahun di tempat tinggalnya di Kota Semarang ini.

Selain berambut kuncir, Bambang Eko juga salah salah satu anggota dewan yang low profile dan sederhan. Dia tidak suka berpakaian resmi, seperti layaknya anggota dewan pada umumnya. Dalam banyak kesempatan, utamanya bertemu warga dia lebih suka memakai kaos oblong dan sandal biasa.  Dengan keunikannya itu dia ini pula, dia berhasil membesarkan organisasi Pemuda Pancasila di Jawa Tengah dengan cepat pesat. Saat jadi ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Tengah tahun 2017 anggota Pemuda Panasila di Jateng baru sekitar 3 ribu, kini jumlahnya mencapai 100 ribuan orang. Dan jumlah itu akan terus bertambah, karena masyarakat banyak yang ingin gabung di Pemuda Pancasila.

“Jangan menilai orang hanya penampilan luarnya saja. Istilahnya, jangan lihat buku hanya dari covernya saja, namun dari isinya juga,” kata pria kelahiran Sukoharjo ini.

Kesedarhanaan, low profilnya Bambang Eko Purnomo, diakui oleh Broto, salah satu anggota Pemuda Pancasila. Menurut Broto, sebagai anggota dewan dia tidak pernah menjaga jarak dengan warga. Sebagai Ketua MPW Pemuda Panasila Jawa Tengah dia juga sangat dekat dengan anggotanya. Dan sering turun menyapa anggotanya. Dia yang datang menghampiri anggota, mengajak diskusi dengan santai, namun tetap saling menghormati satu sama lain.

“Dulu itu, seakan tidak mungkin anggota biasa bersalaman dengan Ketua MPW Pemuda Pancasila. Sekarang, beliau yang datang mengajak bersalaman, diskusi bersama, ngobrol bersama, tanpa ada rasa canggung,” kata Broto. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here