Ini Penampilan Nyentrik Ganjar Pranowo di Solo Batik Carnival, Gagah atau Sangar….?

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo jadi perhatian masyarakat saat menghadiri perhelatan Solo Batik Carnival (SBC) di Solo, Sabtu (27/7/2019). ( foto istimewa)

SIGIJATENG.ID, Solo – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tampil berbeda dan bikin orang tidak kenal jika tidak memperhatikannya, saat menghadiri perhelatan Solo Batik Carnival (SBC) di Solo, Sabtu (27/7/2019).  Suami Siti Atiqah ini mengenakan busana nyentrik, mengenakan kostum ala Timor Leste. Ganjar nampak gagah dan garang saat berjalan dari rumah dinas Wali Kota Surakarta ke Stadion Sriwedari, yang berjarak 300 meteran.

Balutan kostum berwarna merah dengan selendang batik membuat gubernur berambut putih ini menjadi sorotan. Ditambah mahkota berbentuk burung lengkap dengan bulu dan sayap di kanan kirinya, membuat penampilan Ganjar semakin menawan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengenakan kostum Timur Leste

Terbukti, sepanjang jalan, Ganjar menjadi rebutan masyarakat untuk berfoto. Mereka yang berkumpul di bahu jalan untuk menyaksikan parade kirab, langsung berebut untuk berselfie ria dengan Ganjar.

Alih-alih memasang wajah manis, Ganjar justru berulah. Saat melayani warga berfoto, Ganjar malah memasang wajah sangar dan menyeramkan. Aksi itu dilakukan Ganjar untuk menyesuaikan kostum yang ia kenakan. Bukannya takut, aksi garang dan seram Ganjar itu justru membuat publik tertawa.

“Bapak, senyum to, jangan pasang wajah seram,” celetuk salah satu warga sambil tertawa. “Biar pasang tampang garang, tetap gantengnya ndak ilang,” jawab yang lain.

Acara Solo Batik Carnival sendiri berlangsung cukup meriah. Ratusan peserta terdiri dari anak-anak dan dewasa menari-nari di jalanan dengan kostum berwarna-warni, rampak dengan musik yang diputar.

Lucunya lagi, ada beberapa peserta yang masih berusia di bawah lima tahun. Tentu saja, tingkah mereka membuat para penonton termasuk sejumlah wisatawan luar negeri gemas.

“Kegiatan carnival seperti ini selalu menjadi atraksi yang menarik dan ditunggu wisatawan. Di Pekalongan juga ada acara seperti ini, tentu saja saya mendukung penuh kegiatan-kegiatan semacam ini sebagai upaya menarik wisatawan,” kata Ganjar.

Selain meningkatkan wisatawan, kegiatan semacam ini juga meningkatkan ekonomi kreatif dari masyarakat.

“Saya bayangkan setiap akhir pekan ada gelaran-gelaran semacam ini di setiap daerah. Sehingga, para wisatawan memiliki banyak alternatif wisata yang disenangi,” tegasnya.

Atraksi budaya merupakan cara Jawa Tengah untuk meningkatkan kunjungan wisata. Sebab secara destinasi, Jateng telah memiliki banyak tempat menarik yang layak jual.

“Destinasi kita sudah bagus-bagus, namun atraksinya masih kurang. Maka, gelaran atraksi-atraksi semacam ini harus terus ditingkatkan,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Solo Batik Carnival, Lia Imelda mengatakan, gelaran Solo Batik Carnival tahun ini mengambil tema Suvarna Bhumi the Golden of ASEAN. Sejumlah negara Asia Tenggara dihadirkan dalam gelaran itu.

“Kami menghadirkan 11 delegasi negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Filipina, Malaysia, Myanmar, Brunei Darussalam, Laos, Vietnam, Kamboja, Singapura dan Timor Leste. Dengan representasi 11 negara ASEAn itu, kami harap gelaran ini menjadi daya tarik wisatawan mancanegara,” ucapnya. (Rizal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here