Gelar Mediasi, Penyegelan Gereja di Semarang Temui Titik Temu

Pembangunan Gereja yang sempat diisegel

SIGIJATENG.ID, Semarang – Pemerintah Kecamatan Pedurungan menggelar mediasi untuk menyelesaikan polemik penyegelan pembangunan Gereja Baptis Indonesia di Jl Malangsari No. 83, Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Senin (05/08/19) pagi.

Diketahui, kejadian sebelumnya sekelompok warga yang diduga dikoordinir Aziz ditemani pihak Polsek, Intel, kelurahan, dan koramil mendatangi gereja, Kamis (01/08/19). Kemudian melakukan penggembokan pagar gereja.

Mediasi diikuti oleh pihak gereja, warga yang menolak pendirian gereja, pihak kelurahan, RT/RW, Polsek, Koramil, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), LBH Semarang, dll.

Seusai mediasi, Camat Pedurungan Kukuh S.A., menjelaskan, sebagai tangan panjang Wali Kota Semarang, pihaknya ingin mewujudkan Kota Semarang yang benar-benar kondusif. 

“Semua masyarakatnya saling menghormati, saling bahu membahu, bekerja sama. Baik itu secara fisik membangun bangsa, ataupun secara non fisik melaksanakan ibadah masing-masing,” tuturnya.

Sehingga, kata dia, ketika dari awal ada yang kurang pas, seperti pembangunan gereja yang belum sepakati penuh oleh warga, maka pihaknya selaku aparatur negara mengajak untuk rembukan.

“Sebenarnya permasalahannya apa. Tadi setelah semua pihak dipertemukan, akhirnya muncul keikhlasan, kejujuran, kesabaran mereka. Bahwa sebenarnya ada hal-hal yang perlu untuk dipertemukan,” tegasnya.

Dalam mediasi di kantornya, sudah mengerucut dua hal yang nantinya akan dibicarakan di Kesbangpol.

“Dari pihak warga itu agar ijinnya diulang kembali. Karena masyarakat menilai ijinnya sudah terlalu lama. Sedangkan dari pihak Gereja ingin pendirian Gereja itu dilanjutkan karena sudah punya ijin. Namum jika dianggap ijinnya kadaluarsa, harus ada pembatalan,” ujarnya usai mediasi.

“Dari sini, kita bisa melihat, Ini kan sudah luar biasa. Pengorbanan kedua belah pihak dalam rangka menjaga kerukunan di Kota Semarang,” tambahnya.

Sementara dari pihak gereja, Pendeta Wahyudi mengatakan, dirinya mengapresiasi upaya mediasi secara kekeluargaan ini.

“Saya lebih senang, supaya apa yang disuarakan, Kota Semarang sebagai kota yang aman, kondusif, sejuk, bisa menjadi kenyataan dengan adanya musyawarah,” paparnya. (Taufiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here