Dikonsep Wisata Keluarga, Gunung Kemukus Sumberlawang Mulai Digarap Tahun 2020

Berebut air penyucian kelambu makan Pangeran Samudra pengunjung saling berebut. (foto santo/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Sragen – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen dengan dibantu oleh pemerintah pusat akan mengembangkan obyek wisata Gunung Kemukus, Kecamatan Sumberlawang. Tempat wisata makam Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan itu bakal dijadikan sebagai wisata keluarga, dengan wisata air sebagai salah satu daya tariknya.

Pengembangan obyek wisata yang adadi dekat Waduk Kedungombo itu bakal dilaksanakan secara multi years atau tahun jamak,mulai 2020 mendatang.

“Pengembangan obyek wisata Gunung Kemukus adalah salah satu permohonan Kabupaten Sragen yang direspon pemerintah pusat,” kata Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati tatkala ditemui Kamis (5/9/2019).

Bupati yang akrab dipanggil Yuni ini menjelaskan, dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupr) juga sudah datang ke Sragen dan melakukan diskusi pengembangan obyek wisata yang terletak di Desa Pendem tersebut. Menurut Yuni, dua hal yang menjadi fokus di Sragen adalah pengembangan Gunung Kemukus dan pembangunan jalan Solo-Surabaya ruas Masaran-Pungkruk menjadi dua
jalur empat lajur.

Yuni menandaskan, untuk Gunung Kemukus sudah mengerucut dan bakal dibuat Detail Engineering Design (DED). Tahap pertama pengembangan kawasan itu dimulai pada 2020 mendatang. “Gunung Kemukus bakal dibangun dengan konsep sebagai wisata keluarga, dimana akan ada banyak wahana permainan,” tandas Yuni. Pihaknya juga sudah duduk satu meja dengan berbagaipemangku kepentingan yang ada di kawasan Kemukus,  Termasuk bagaimana bangunan-bangunan yang ada di green belt atau sabuk hijau di sekitar juga harus mundur. 

Yuni juga memastikan, karena bakal dikonsep sebagai wisata keluarga, di Gunung Kemukus tidak akan dibangun Islamic Centre. “Ternyata untuk membangunnya tidak bisa dalam satu tahun anggaran, harus multi years,” ungkapnya.

Pembahasan lebih lanjut pengembangan Gunung Kemukus juga dilakukan pada Kamis (5/9/2019) di Semarang. Menurut Yuni, tipikal Gunung Kemukus itu unik, berbeda dengan Rawapening yang tanahnya adalah tanah oro-oro (OO) yang notabene tanah milik pemerintah.

Sedangkan tanah di kawasan Gunung Kemukus banyak yang sudah menjadi tanah pribadi, padahal dahulu itu adalah tanah oro-oro. “Itulah kelalaian kita yang ada di pemerintahan, yang kadangkala tidak peduli dengan aset-aset yang dimiliki. Kenapa bisa ada bangunan disitu, itulah yang harus dipikirkan dan sangat luas wilayahnya,” tegasnya. (santo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here